Jumat, 26 Desember 2008

GERWANI

GERWANI

GERAKAN WANITA INDONESIA


Usaha-usaha untuk mengorganisir perempuan serta menghasilkan kader-kader dan aktifis memerlukan usaha yang penuh kesabaran dan metode tersendiri. Mayoritas perempuan Indonesia yang miskin, dan mempunyai lebih sedikit pengalaman ketimbang pria dalam hal organisasi, ditambah kenyataan bahwa mayoritas perempuan buta huruf dan terikat secara tradisional, terutama dalam usaha pembauran. Sebagai pimpinan, Aidit sadar akan pentingnya usaha untuk menarik dan mengorganisir perempuan, karena bukan hanya separuh dari para pemilih adalah perempuan, tapi karena mereka juga memegang peranan penting dalam sector ekonomi. Sebagian besar pekerja pada sector industri adalah perempuan yang juga mempunyai andil besar dalam lapangan pertanian sebagai tani pengolah tanah. Dalam usaha untuk menarik dan mengorganisir perempuan, terutama dari kelas bawah, PKI menggunakan organisasi massa perempuannya seperti Gerwani, Sobsi dan BTI. Usaha yang dilakukannya berjalan cukup sukses dan berkembang dengan pesat, sehingga dalam beberapa tahun perempuan telah menempati posisi kader dan aktifis dalam partai.


  1. Cara Kerja Partai


Manifesto Pemilu PKI yang disahkan pada bulan Maret 1954 menyatakan bahwa ‘untuk semua perempuan, memilih PKI berarti emansipasi dan jaminan akan persamaan hak’1, Dalam sebuah artikel di Harian Rakjat, sesaat sebelum pemilihan Dewan pada bulan Desember 1955, dijelaskan secara panjang lebar apa yang dimaksud dengan persamaan hak2. PKI akan menjamin persamaan hak (perempuan) dalam empat hal, yaitu pertama, dalam perkawinan akan diberikan kebebasan pada kedua jenis kelamin untuk memilih pasangan, persamaan dalam perceraian dan warisan, suami dan istri dilibatkan dalam usaha pembinaan 0anak dan memiliki (mengasuh) anak secara bersama-sama; kedua, dalam sector ekonomi setiap perempuan yang terlibat dalam proses produksi ditempatkan dalam posisi yang sederajat dengan laki-laki; ketiga, dalam perburuhan tidak akan dibenarkan diskriminasi atas perempuan, setiap pekerjaanyang sama akan diberlakukan upah yang sama; keempat, dalam pertanian perempuan akan mendapat bagian yang sama bila sebidang tanah dibagi-bagi. Usaha khusus juga dilakukan untuk menarik minat perempuan, seperti yang tampak dalam usaha mendistribusikan tekstil dan makanan dengan harga murah, penyediaan fasilitas pendidikan untuk anak-anak dan sebagainya.

Metode yang dijalankan PKI tersebut merupakan usaha untuk menarik minat perempuan dari segala lapisan sosial. Sebuah artikel yang ditulis oleh Setiati Surasto (salah seorang pimpinan perempuan PKI) memperlihatkan bahwa metode tersebut dilakukan untuk tiga jenis kelompok sosial: perempuan dari kelas pekerja dan pertanian, kelompok menengah dan kelompok atas3. Anggota partai akan memberikan pertolongan pada para perempuan buruh dan tani, demikian tulisnya. Kesulitan-kesulitan dalam kehidupan secara personal akan mendapat dukungan dari partai yang kemudianakan didatangi. Tapi karena secara umum mereka masih buta huruf, mempunyai anak banyak dan tidak mantap dalam ekonomi, menyebabkan kesulitan untuk menyertakan perempuan-perempuan miskin dalam pertemuan, apalagi bila pertemuan tidak diadakan dekat rumah mereka. Tapi meskipun demikian tetap ada usaha-usaha pendekatan oleh para kader jika dibutuhkan atau hadir dalam pertemuan-pertemuan kecil dari perempuan yang tinggal berdekatan. Kemudian usaha-usaha ini dilanjutkan dengan pembahasan masalah keseharian, menjelaskan keputusan-keputusan politik diantara mereka dan kemudian secara bertahap mereka disiapkan untuk berpartisipasi dalam pertemuan-pertemuan serta kursus-kursus rutin dari partai.

Kelompok (perempuan) menengah yang meliputi pedagang, petani menengah, istri para pegawai menengah dan para pelajar dibutuhkan waktu yang panjang dalam usaha menarik mereka. Para perempuan tersebut khawatir jika bergabung dengan partai, (seperti yang ditulis Setiati) akan kehilangan posisi social mereka atau karena mereka telah termakan oleh propaganda yang reaksioner. PKI membantu mereka dalam menyelesaikan masalah-masalah keseharian, misalnya dengan memberi penjelasan tentang hak-hak mereka dan menjelaskan beberapa persoalan di sekitar pajak dan dana pengeluaran.

Beberapa kerjasama dengan partai dilakukan terhadap para intelektual perempuan terkemuka dan dari golongan pejabat tinggi dengan cara mempengaruhi para suami secara tidak langsung. Perempuan dari kelompok ini, menurut Setiati ‘memerlukan perhatian khusus’. Kelompok ini sangat sulit dilibatkan dalam partai dan usaha-usaha yang terbuka kadang justru mendapat hasil yang sebaliknya, ‘mereka takut dengan kata komunis’ serta kehilangan muka dan posisi suami mereka. Usaha keras yang dapat dilakukan partai adalah mengundang mereka dalam setiap kesempatan dengan gelar tamu kehormatan, dan menjelaskan posisi partai secara ilmiah dan terbuka. Dengan cara ini PKI dapat menarik simpati.


Jika mereka siap membantu (bahwa posisi PKI adalah benar) mereka akan yakin dan mendukung kita (partai). Dan jika mereka siap membantu, mereka akan memberi dukungan moral dan material untuk perjuangan, walaupun secara umum mereka tidak mengharapkan dapat memberi secara terbuka. Kita (partai) harus mengerti dan tidak berharap melebihi apa yang dapat mereka berikan’.


Setiati menekankan bahwa kelompok menengah dan atas dapat memberikan bantuan finansial bagi partai, dan disebut dengan sumbangan berkala (reguler). Ini semakin merapatkan hubungan mereka dengan partai, sebagai usaha memberi perasaan turut berpartisipasi dalam perjuangan partai.

PKI mengadakan konferensi nasional perempuan I dari tanggal 25 – 30 Mei 1958. Persoalan-persoalan yang muncul diantara beberapa anggota menjadi topik diskusi4. Aidit mengatakan ‘Rintangan terbesar bagi partai dalam bekerja diantara kelas pekerja adalah adanya kepercayaan dominan bahwa kondisi yang buruk sekarang ini adalah takdir yang tidak dapat diubah’5. Lebih lanjut dia menyatakan, partai harus berupaya membantu mereka untuk memahami bahwa kondisi yang buruk merupakan ciptaan manusia dan melalui organisasi, situasi yang lebih baik akan tercipta. Sudisman menghimbau partai untuk memberi perhatian yang lebih besar pada salah satu problem ekonomi mendasar yang dihadapi perempuan6. Suharti lalu memperkenalkan beberapa metode yang telah erbukti berhasil untuk menarik anggota-anggota pertemuan yang baru, dengan cara: ceramah-ceramah lebih diutamakan diberikan oleh kader perempuan; persamaan hak-hak perempuan dalam perkawinan dan masalah anak; kelompok-kelompok anjangsana7 membantu ibu-ibu rumahtangga pada masalah tertimpa kemalangan (kematian, sakit) atau pada saat-saat sibuk (kelahiran, perkawinan, dll); memberi penjelasan dan peringatan keras kepada anggota partai yang melanggar kode moral Partai Komunis; melindungi kepentingan keseharian massa perempuan8. Cara paling berhasil untuk meningkatkan keanggotaan adalah dengan mendekati laki-laki (suami) untuk membawa istrinya dalam pertemuan, dan kemudian meningkatkan kesadaran politik mereka, sampai pada tahap mereka setuju untuk bekerjasama dengan partai.

Dengan upaya-upayanya sendiri secara langsung, PKI berhasil membawa perempuan ke dalam lingkarannya-tapi ternyata masih sulit untuk memperkirakan proporsi macam apa yang dapat menarik massa (perempuan). Pada saat Konggres Nasional PKI VII, April 1962, ketua Aidit tetap belum puas dengan cara kerja Partai untuk menarik anggota-anggota perempuan9. Meskipun keanggotaan perempuan telah meningkat dan presentasinya terus melonjak. Di masa yang akan datang Aidit mengatakan ‘situasi ini harus diperbaiki, tambahan pekerja perempuan harus meningkat dalam partai’.



  1. Gerwani


Barisan terdepan organisasi massa perempuan Komunis, berawal secara tidak mengejutkan pada bulan Juni 1950, ketika Gerwis (Gerakan Wanita Sedar) yang dibentuk sebagai penyatuan dari 6 organisasi lokal perempuan yang bertebaran di Pulau Jawa. Total anggotanya hanya sekitar 500 orang10.

Selama 18 bulan pertama, hanya sedikit program yang dijalankan oleh Gerwis, hal ini karena pimpinan Gerwis melarang dengan menyebutnya sebagai ‘kesadaran perempuan yang sangat politis’11. Para pimpinan 99% berasal dari kelas borjuasi12. Masalah-masalah yang diangkat Gerwis, tampaknya seperti berusaha untuk meningkatkan kondisi perempuan-perempuan miskin13. Tapi rencana untuk terjun diantara massa tersebut tidak diikuti denan upaya yang nyata untuk turun ke bawah dan mengorganisir mereka14. Aktivitas yang dijalankan terpusat pada dukungan pada perjuangan politik PKI. Akibatnya tujuh orang pimpinan ditangkap dalam operasi pembersihan massa 1951. Pada bulan Desember 1951, ketika Konggres I diadakan, keanggotaannya telah bertambah menjadi 6000 orang15.

Pada Konggres I disimpulkan bahwa ‘setelah melakukan otokritik kedalam organisasi jelaslah bahwa pada masa-masa sebelumnya terlalu banyak perhatian diberikan pada aksi keluar dan tidak memperkuat Gerwis ke dalam ‘yaitu terlibat dan menaruh perhatian secara langsung dalam kehidupan sehari-hari perempuan’16. Beberapa orang pimpinan dan kader mengkritik cara kerja sektarian organisasi, dan terciptanya permusuhan oleh Gerwis akibat dari cara kerja yang kurang ramah, apalagi terhadap orang-orang di luar Gerwis. Meskipun begitu konggres masih melibatkan diri dengan persoalan politik dan sedikit memperhatikan massa perempuan, seperti tampak pada dukungan terhadap kasus Irian Barat, pencarian dana untuk perundingan, politik luar negri yang bebas dan melakukan kerjasama dengan International Federation of Democratic Women (Federasi Internasional Perempuan Demokratik).

Meskipun kritik terhadap organisasi sendiri terjadi dalam Konggres I tahun 1951, para pimpinan Gerwis terlalu lamban dalam memberi reaksi untuk memenangkan dukungan massa dengan melakukan studi dan penelitian (peninjauan) terhadap problem dan minat keseharian massa perempuan. Akar dari keengganan mereka ini kemungkinan bersumber dari latar belakang sosial mereka. Para pimpinan Gerwis kebanyakan berasal dari kelas menengah, dan kelas menengah Indonesia secara umum menampakkan keengganan untuk berada di sekitar ‘lower order’ (sic, mungkin maksudnya ‘lower class’-STK2) dan mengorganisir mereka. Pada bulan Juni 1953 organisasi ini mengklaim anggotanya berjumlah sekitar 40.00017. Tapi sebuah permulaan untuk bekerja di sekitar massa mulai menunjukkan indikasi, berdasarkan laporan kegiatan Gerwis di Jawa Timur18. Diantara 7.016 anggotanya di Jawa Timur, telah berhasil didirikan 8 taman kanak-kanak (TK), 52 kursus peberantasan buta huruf, 29 kursus kerajinan tangan, diperbantukan pada 54 tempat dan mengadakan 17 kursus kader.

Konggres II Gerwis diadakan pada bulan Maret 1954. Keanggotaan telah berkembang menjadi 80.000, dengan jumlah cabang mencapai 20319. Tiga delegasi asing juga hadir, termasuk Monika Felton dari Federasi Internasional Perempuan Demokratik. Mereka duduk sebagai anggota kehormatan dari Presidium Konggres. Umi Sardjono, ketua yang baru mengumumkan, bahwa dalam waktu dekat konggres Gerwis akan membuang ‘karakteristik sektariannya’. Dan sebagai acara simbolis penghapusan sifat sektarian, nama Gerwis diubah menjadi Gerwani. Sebagai konsekuensinya sebuah aturan baru dibentuk yang membuka keanggotaannya bagi seluruh perempuan Indonesia usia 16 tahun ke atas ‘terlepas dari politik, agama dan kelompok etnik’. Keputusan ini disetujui dan menjadi aturan dan program Gerwani20.

Konggres ke II memutuskan untuk meningkatkan anggotanya menjadi 1,5 sampai 2 juta, mulai saat diputuskan sampai konggres berikutnya, meskipun target ini mendapat kritik sebagai sesuatu yang ‘tidak obyektif’21. Ternyata keanggotaan terus meningkat. Sebelum September 1954 keanggotaan diklaim telah berjumlah 400.000 dan menjadi 500.000 pada saat pemilihan umum pada bulan Desember 195522. Dalam bulan Juli 1956, ketika keanggotaannya dilaporkan telah menjadi 565.147, di pulau Jawa Gerwani mempunyai cabang di tiap kabupaten dan kota-kota besar, 40% dari jumlah seluruh kecamatan dan sekitar 5000 sub cabang pada rukun tetangga di kota dan pedesaan; di luar Jawa sedang dipersiapkan cabang-cabang di seluruh Sumatra, Kalimantan Barat dan Selatan, dan Sulawesi Utara dan Selatan, sementara lapisan organisasi yang lebih kecil sedang dibentuk di Nusa Tenggara Barat dan Maluku23. Pada saat konggres III Gerwani pada bulan Desember 1957 anggotanya berjumlah 671.342 orang24.

Masa antara konggres II dan III, melibatkan Gerwani dalam masalah politik, ekonomi dan sosial. Selama pemilu 1955, 23.000 anggota Gerwani di Jawa bekerja pada komite Pemilu yang dibentuk pemerintah untuk menjamin kelancaran pemungutan suara; 23 anggota disumbangkan dari daftar PKI, dan seorang untuk Partai Nasionalis yang kecil, yaitu PRI. Lima anggota terpilih dalam parlemen, sebagai jatah PKI untuk Dewan Pemilih (Constituent Assembly). Dalam pemilu lokal di tahun 1957, 59 anggota dipilih dalam dewan lokal25, hampir semuanya berasal dari PKI. Dukungan kuat diberikan pada gerakan perdamaian, terutama dalam pengumpulan tandatangan bagi Vienna Peace Appeal, dan dukungan Gerwani juga diberikan pada semua pendirian politik PKI dalam beberapa peristiwa26.

Pendidikan dalam skala yang lumayan besar dimulai dalam Gerwani setelah Konggres II. Untuk keanggotaan biasa, kampanye anti buta huruf dimulai pada tahun 1955, dan dalam waktu setahun telah diklaim bahwa 30% dari anggotanya telah melek huruf, meskipun tidak mereka semua dapat menulis27. Kursus-kursus kader dipusatkan pada masalah organisasi dan administrasi, tapi di penghujung tahun 1957 coba diciptakan pendidikan kader yang sistematis dengan sekolah dan kursus-kursus pada seluruh lapisan organisasi dan penyeragaman diktat-diktat pegangan pada empat subyek mendasar: sejarah pergerakan nasional, sejarah gerakan perempuan nasional dan internasional, masalah-masalah dalam organisasi Gerwani dan perkembangannya serta instruksi-instruksi dari Federasi Internasional Perempuan Demokratik-dalam hak-hak wanita dan anak serta perdamaian28. Dari bulan Oktober 1950 sampai akhir 1952, Gerwis memulai terbitan berkala Wanita Indonesia (Indonesian Women), tapi setelah tampil secara ireguler, publikasinya terhenti pada pertengahan tahun 1956. Untuk menggantikannya diterbitkan Berita Gerwani, (Gerwani News) edisi perdana yang dicurahkan secara khusus pada berita-berita organisasi dan dirancang untuk memberikan masukan pada kader dalam menjalankan tugasnya. Pada awal 1960 sirkulasinya sekitar 2000 eksemplar29.

Diantara Konggres II dan III, Gerwani dari pusat dan daerah, ambil bagian secara aktif dalam aksi mempertahankan hak-hak wanita dan anak, ‘yang merupakan tujuan mendasar dari organisasi perempuan’30. Dalam lapangan ini Gerwani juga membicarakan mengenai kampanye selama pemilu 1955 untuk memperlihatkan tekanan pada undang-undang perkawinan yang lebih demokratik, memperdebatkannya melalui anggota-anggota parlemen, bahwa biaya legal dari penyatuan partner yang terpisah harus dirombak, berpartisipasi dalam komite yang dibentuk oleh kementrian urusan agama untuk memecahkan masalah perkawinan, memberikan hukuman berat atas kasus perkosaan dan penculikan perempuan, dan di sub cabang dilakukan aksi-aksi dalam skala kecil yang menguntungkan para anggota31. Dalam memperjuangkan kepentingan perempuan kelas pekerja dan tani. Gerwani mendapat bantuan dari SOBSI dan BTI. Aktifitas sosio-ekonomi lainnya adalah pembentukan kursus-kursus latihan bagi dukun beranak (midwives), dan pembentukan 179 Taman Kanak-kanak dan 3 Sekolah Dasar.

Pada saat konggres III yang diadakan dari tanggal 22-27 Desember 1957, Gerwani mengklaim anggotanya telah berjumlah 671.342, yang tersebar secara geografis, sebagai berikut; 613.262 anggota di Pulau Jawa; 59.740 anggota di Sumatra; 2.680 di Sulawesi; 2.260 di Nusatenggara; 1.900 di Maluku dan 1.500 di Kalimantan32. Di pulau Jawa terdapat cabang pada setiap kabupaten dan kota, pembentukan organisasi di 75% dari jumlah kecamatan yang ada dan sub cabang yang meliputi 40% dari desa yang ada. Beberapa cabang dibentuk di tempat pekerjaan, tapi mereka semua dianggap tidak bergabung dengan Gerwani, ketika SOBSI membentuk departemen khusus perempuan.

Dari bulan Desember 1957 sampai Desember 1960, Gerwani menerapkan rencana operasi tiga tahun yang mana diharapkan dapat membentuk sebuah sistem pendidikan kader. Kebanyakan kursus-kursus kader dibentuk berdasarkan lapisan yang berbeda, tapi nomor (anggota) dan keikutsertaan mereka tidak akan dibocorkan keluar. Sampai awal tahun 1960 anggota kader yang bekerja secara penuh masih sedikit: tiga orang di setiap pusat dan rata-rata satu orang di setiap cabang (dalam bulan Desember 1957 terdapat 183 cabang). Sebuah tenaga yang siap pakai dari para pekerja lepas tersedia, entah dari kader perempuan dalam PKI atau organisasi massa lainnya, dan dari anggota Gerwani di parlemen dan dewan representatif di tingkat lokal. Laporan Dewan Nasional terhadap Konggres III mengkritik dengan apa yang disebut sebagai kelewat banyak memperhatikan persoalan-persoalan politik dan sedikit bahkan tak ada perhatian terhadap massa perempuan Indonesia.


Sampai saat ini pengalaman telah membuktikan bahwa aksi yang condong pada persoalan-persoalan politik tanpa diimbangi oleh aksi sosio-ekonomi, sehingga massa perempuan tidak dapat merasakan secara langsung kepentingan mereka. Ini bukan berarti aksi-aksi politik menjadi tidak penting, tapi kita harus menekankan peningkatan jumlah tindakan terhadap hak-hak perempuan dan anak sebagai aksi sosio-ekonomi, aksi yang secara langsung menaruh perhatian pada kehidupan massa perempuan, misalnya masalah perbaikan kampung, masalah air, dan juga masalah beras, dst33.


Laporan Dewan Nasional kepada Konggres menyatakan bahwa ‘untuk memperluas keanggotaan, setiap aksi harus dilandasi pada kepentingan massa perempuan secara langsung, dan dibicarakan di antara perempuan, lalu dicetuskan sekaligus didukung oleh mereka’. Sebuah penuntun dikeluarkan untuk sebuah aksi: tujuan aksi harus jelas agar mendapat sambutan dan dukungan luas dari masyarakat, dan aksi harus dilakukan pada waktu yang tepat dengan batas-batas yang jelas.

Konggres III membahas secara komprehensif 27 poin program yang bertujuan merangkul persoalan-persoalan di sekitar hukum perkawinan, undang-undang kerja, persamaan hak, wajib belajar, persamaan pelayanan kesehatan dan kontrol harga atas barang-barang pokok34. Dengan program ini Gerwani berharap dapat perhatian dari segala lapisan perempuan Indonesia dari kelas pekerja dan tani perempuan sampai kelas menengah yang melek huruf.

Pada awal tahun 1960, ketika keanggotaan Gerwani diklaim berjumlah sekitar 700.000, Gerwani melibatkan diri dalam cara-cara kerja praktis untuk menarik dan memperkokoh para anggota35

.

  1. Aktifitas yang paling popular adalah arisan dimana semua anggota kelompok memberikan sumbangan tiap minggu dan setiap anggota secara bergiliran akan menerima jumlah keseluruhan.

  2. Kelompok bantuan secara berkala dibentuk pada saat-saat dibutuhkan seperti kematian, kelahiran, perkawinan, sakit dan kehamilan.

  3. Pembentukan kelompok kredit dalam skala kecil.

  4. Didirikan 326 TK dan 3 SD. Kursus dan latihan diberikan pada setiap staf pengajar. Beberapa TK dilengkapi dengan baik dan mempunyai guru yang terlatih, tapi mayoritas masih bergiliran.36

  5. Pada pertengahan tahun 1959, Dewan Nasional memutuskan bahwa setiap cabang harus mempunyai paling sedikit lima atau enam orang yang mengurusi sebuah koperasi. Kursus-kursus kader koperasi diberikan oleh para petugas dari Departemen Koperasi. Pada awal 1960 beberapa koperasi konsumer sudah disiapkan.

  6. Kursus-kursus pemberantasan buta huruf masih merupakan aktifitas penting di Jawa Timur dan Tengah. Beberapa cabang menyelenggarakan kursus untuk masyarakat umum, terkadang atas nama organisasi atau bisa juga bekerja sama dengan pemerintah37.

  7. Perempuan dilibatkan dalam masalah-masalah perkawinan. Kader-kader Gerwani berpartisipasi dalam wujud semi-petugas untuk menyelesaikan masalah suami istri dan terkadang melindungi anggota dalam kasus-kasus perceraian.

  8. Kerajinan tangan juga diberikan; di kota diberikan kerajinan membuat bantal, pakaian dan memasak.

  9. Gerwani mengadakan kampanye luas terhadap kenaikan harga beberapa barang-barang kebutuhan pokok seperti beras, tekstil, gula dan minyak goreng.

  10. Beberapa kegiatan budaya juga diselenggarakan termasuk paduan suara dan kelompok drama, tapi kegiatan ini tidak berkembang luas.

  11. Gerwani memberi bantuan terhadap organisasi massa lainnya dan pada PKI dalam upaya mereka mendapatkan masukan atas aktivitas lain dalam masyarakat.

  12. Gerwani bekerjasama dengan organisasi perempuan lainnya dalam merayakan hari Kartini38 dan hari ibu, dan di beberapa kota besar merayakan peringatan hari perempuan internasional.


Anggota-anggota inti berjumpa sebulan sekali dan terkadang seminggu sekali.

Keanggotaan Gerwani meningkat secara tajam dari 700.000 di tahun 1960 mencapai 1.120.594 pada bulan Desember 1961 dan menjadi 1,5 juta pada bulan Januari 196339. Peningkatan jumlah anggota ini, mungkin merupakan hasil dari semakin besarnya perhatian terhadap perempuan tani yang diperlihatkan melalui seminar Gerwani pada bulan Januari 196140. Pada bulan Oktober 1961, ketika keanggotaannya telah mencapai jumlah 900.000 orang, Gerwani memiliki kantor cabang di semua propinsi; 225 kabupaten dan kota administratif; 70 % dari seluruh kecamatan yang ada, dan sub cabang pada 40% desa yang ada41.

Kelihatannya bahwa daya tarik utama dari Gerwani baik di daerah pedesaan maupun kota adalah kerja sosialnya, organisasi berupa kelompok arisan, kelompok kredit skala kecil, saling menolong, kursus pemberantasan buta huruf, taman kanak-kanak, dan konsultasi masalah perkawinan. Pendidikan politik jarang diberikan secara langsung kepada anggota-anggota biasa, tapi Gerwani mengajarkan kepada mereka bahwa kondisi yang buruk dapat diatasi dengan organisasi, dan PKI adalah satu-satunya partai politik yang membela kepentingan mereka. Sumbangan Gerwani yang sangat berharga untuk PKI adalah kemampuannya dalam membangkitkan massa perempuan untuk persoalan politik, memobilisasi pemilih, menambah dukungan untuk garis politik PKI, membantu organisasi massa yang lain, dan menyediakan serta mendidik kader dan anggota Partai dari kalangan perempuan.

Bagian ini tidak membicarakan kegiatan serikat-serikat buruh Komunis secara umum, melainkan memberi perhatian khusus pada anggota-anggota perempuannya.

Walaupun jumlah buruh perempuan cukup tinggi di Indonesia42, SOBSI dan serikat-serikat buruh yang bernaung dibawahnya tidak memberikan perhatian khusus sampai pada awal tahun 1956, setahun setelah PKI mulai mengamati alat-alat untuk menarik perhatian serta mengorganisir perempuan dalam jumlah yang lebih besar. Pada tanggal 25 Februari 1956, Dewan Nasional SOBSI mengeluarkan resolusi tentang buruh perempuan dan memasukkan keputusan-keputusan berikut:


  1. Menuntut persamaan hak antara buruh perempuan dan laki-laki di tempat kerja, termasuk pembayaran upah dan penentuan upah minimum

  2. Menuntut pelaksanaan hukum perburuhan no. 1 tahun 1951, dengan perhatian khusus pada hak buruh perempuan;

  3. Menentang diskriminasi terhadap perempuan yang dilakukan oleh sejumlah pegawai pemerintahan, perusahaan, (services) yang reaksioner;

  4. Memperjuangkan hak-hak khusus untuk perempuan seperti kehamilan, melahirkan dan kondisi kerja43.


Resolusi ini juga memutuskan pembentukan kelompok-kelompok khusus perempuan dalam serikat buruh yang membicarakan tuntutan khusus kaum perempuan dan mengorganisir perjuangan untuk pelaksanaan dibawah kepemimpinan serikat buruh.

Sebagai petunjuk adanya keinginan untuk melibatkan perempuan didalam kegiatan organisasi, Dewan Nasional pada bulan Februari 1956 meningkatkan jumlah anggota perempuannya dari satu menjadi lima. Pada bulan September 1957, ada 49 kader perempuan didalam komite kepemimpinan SOBSI serta serikat-serikat buruhnya, baik di tingkat regional maupun pusat, dan ‘jumlah kader perempuan yang memimpin atau berpartisipasi dalam kepemimpinan organisasi dasar meningkat dengan cepat’44. Pada bulan itu pula konferensi nasional SOBSI memutuskan bahwa serikt buruh yang memiliki banyak anggota perempuan, harus membentuk departemen perempuan, pembentukan kelompok-kelompok perempuan di tempat kerja harus diselesaikan pada akhir tahun 1958, kader harus ditunjuk dalam komite-komite pusat dan regional SOBSI untuk menangani urusan perempuan, dan buruh perempuan harus dipromosikan didalam badan-badan kepemimpinan45.

Selama tahun 1956 dan 1957, beberapa serikat buruh mulai mengadakan konferensi khusus untuk menangani masalah buruh perempuan; pada tahun 1957 beberapa cabang SOBSI telah mengadakan kursus-kursus untuk mengorganisir kader-kader khusus perempuan; pada bulan Februari 1958 SOBSI menyelenggarakan seminar nasional masalah perempuan, agenda pembicaraannya mengenai metode-metode pengorganisiran buruh perempuan, masalah-masalah sosial ekonomi yang dihadapi buruh perempuan, dan hak-hak perempuan46. Sekretariat Dewan Nasional membalikkan keputusannya untuk mengorganisir kelompok-kelompok khusus perempuan, tapi kepentingan-kepentingan khusus dari buruh perempuan dipromosikan oleh bagian-bagian khusus serikat buruh dan kader-kader urusan perempuan, serta dalam pertemuan-pertemuan khusus47.

Pada akhir tahun 1958 hanya sedikit perempuan yang terlibat dalam kepemimpinan pusat SOBSI: ada empat perempuan dari 39 anggota Dewan Pusat serikat buruh perempuan, dimana 45% diantara buruhnya adalah perempuan, 9 dari 29 di dalam serikat buruh rokok, yang 6% buruhnya adalah perempuan, 3 dari 21 didalam serikat buruh tekstil, yang juga 65% dari buruhnya adalah perempuan48. Tapi kaum perempuan dengan ‘cepat’ menduduki tempat-tempat dalam kepemimpinan organisasi-organisasi dasar. Hanya sedikit angka statistik yang tersedia mengenai peningkatan jumlah kader perempuan didalam SOBSI dan serikat-serikat buruhnya49; walau angka-angka itu serta angka-angka dari akhir tahun 1958 menunjukkan proporsi yang kecil jika dibandingkan dengan jumlah buruh perempuan secara keseluruhan, semuanya memperlihatkan keberhasilan SOBSI beserta serikat-serikat buruhnya dalam mengembangkan kepentingan dan kemampuan kaum perempuan di bidang organisasi, di sebuah negara dimana-paling tidak di kelas yang lebih rendah-perempuan tidak memiliki pengalaman untuk menjalankan organisasi, khususnya pada organisasi yang juga memiliki anggota laki-laki. Perhatian lebih lanjut dari pemimpin-pemimpin SOBSI mengenai masalah dan peranan buruh perempuan ditunjukkan melalui sebuah diskusi pada seminar nasional mengenai buruh perempuan yang diadakan pada bulan Mei 196150.

Singkatnya, karena jumlah buruh perempuan cukup besar dalam sekian banyak bidang pekerjaan, sebagian besar tertarik SOBSI dengan dasar kepentingan bersama sebagai seorang buruh. Pada bulan Februari 1956, bagaimanapun juga, pemimpin-pemimpin SOBSI secara khusus berusaha menarik buruh-buruh perempuan dan menguatkan ikatan mereka dengan serikat-serikat buruh melalui seruan tentang kepentingan yang spesifik sebagai buruh perempuan dan melalui pembentukan aktifis serta kader-kader perempuan. Peningkatan jumlah kader perempuan didalam serikat buruh berjalan lambat namun pasti, dan segera memperlihatkan keberhasilan usaha-usaha itu.


Kegiatan BTI


Sebuah artikel yang berjudul ‘Meningkatkan jumlah anggota di antara tani perempuan,’ yang diterbitkan dalam Harian Rakjat pada tanggal 15 Juni 1955 memperlihatkan bagaimana BTI (organisasi tani di bawah pimpinan PKI) berusaha membuat tani perempuan memiliki pengetahuan politik lalu merekrut mereka sebagai anggota BTI lalu Gerwani. Penulisnya51, Kartinah, menyatakan bahwa tani perempuan masih terbelakang, pemalu, rendah hati dan tidak dapat terlibat dalam organisasi hanya dengan menyampaikan undangan pada mereka untuk datang. Kesabaran sangat diperlukan, dan, pada berbagai kasus, bantuan suami, ayah atau tetangga juga penting. Para laki-laki diharapkan dapat memberi keterangan tentang tujuan-tujuan BTI, mengajak penduduk perempuan hadir pada pertemuan, dan meyakinkan bahwa mereka ditampilkan dalam diskusi mengenai situasi desa mereka sendiri.

Dengan cara ini, menurut Kartinah, kaum perempuan akan tahu bahwa perempuan lainnya juga menghadapi persoalan yang sama, ‘dan penderitaan mereka sama saja.’ Dengan demikian mereka akan melihat gunanya bergabung bersama penduduk laki-laki di dalam perjuangan kaum tani, dan mereka akan melihat pentingnya organisasi untuk memecahkan persoalan. Saat itu BTI dan Gerwani akan menarik mereka dalam organisasi. Perhatian khusus diberikan agar menimbulkan rasa tanggungjawab dan keterlibatan melalui pelaksanaan tugas-tugas ringan, seperti menyediakan makanan untuk pertemuan, memberikan bantuan pada saat ada yang memerlukan dan kerja sosial lainnya. Pelajaran juga diberikan untuk memberantas buta huruf dan mengajarkan masalah kesehatan, menjahit dan sebagainya. Singkatnya, tulis Kartinah, tani perempuan ‘harus diberikan tanggungjawab, walaupun kecil, karena dengan pemberian tanggungjawab seperti itu, mereka akan merasa ‘bangga’ bahwa mereka sudah membantu kerja organisasi dan untuk keperluan itu tidak banyak mengeluarkan tenaga.

Artikel Kartinah ini menggambarkan tiga karakteristik PKI dalam mengorganisir massa: pertama, perhatian dan kesabaran dalam menumbuhkan kesadaran serta membawa mereka masuk ke dalam organisasi; kedua, kenyataan saling membantu diantara organisasi komunis-dalam konteks ini BTI membantu pendirian dan perkembangan Gerwani, dan Gerwani membantu BTI dalam perjuangan untuk meningkatkan taraf hidup kaum tani; lalu, ketiga, artikel itu dengan jelas memperlihatkan bahwa kegiatan organisasi massa seperti itu pada akhirnya menuju pada keanggotaan partai.















STK2 1991 (Seri Terjemahan Kita-kita)52


1 PKI, Manifes Pemilihan Umum PKI (Djakarta, 1954), hlm. 19

2 Harian Rakjat, 14 Desember 1955

3 Setiati Surasto, ‘Memperluas keanggotaan Partai di kalangan wanita’, Kehidupan Partai, Februari 1957, hlm. 19-21

4 Laporan lengkap dapat ditemui dalam Bintang Merah, Juni 1958, hlm. 241-285

5 D. N. Aidit, ‘ Wanita Komunis Pejuang Untuk Masyarakat Baru’, Bintang Merah. Juni 1958, hlm. 247

6 Sudisman, ‘Dengan Ketabahan Jang Besar Mendidik dan Mempromosi Kader-kader Wanita’, Bintang Merah, Juni 1958. hlm 250.

7 Kelompok Andjangsono, kelompok kecil dari anggota organisasi yang mengundang para tetangga untuk beramah tamah dan ngobrol. Kelompok ini dimanfaatkan oleh PKI dan organisasi massanya terutama pada saat-saat menjelang Pemilu.

8 Suharti, ‘ Menghidupkan Grup Wanita dan Meluaskan Keanggotaan Partai di Kalangan Wanita’, Bintang Merah. Juni 1958, hlm 256.

9 D. N. Aidit, Untuk Demokrasi, Persatuan dan Mobilisasi, Jakarta 1952, hlm 95-97.

10 Gerwani, Peraturan Dasar Gerwani: For A Lasting Peace for People’s Democracy (FALP), 9 Maret 1956. hlm 4

11 Wawancara dengan Umi Sardjono, Ketua Gerwani sejak Maret 1954

12 Umi Sardjono, ’Preadvices Tentang Organisasi. Wanita Sedar, 15 Februari 1951. Dalam laporan ini Umi menyatakan meskipun buruh dan tani tertindas, tetap harus dipimpin oleh organisasi. Kenyataan di Indonesia menunjukkan bahwa kesadaran mereka masih rendah. Para buruh dan tani yang tertindas tidak sadar bahwa mereka harus mengikuti pimpinan revolusi. Dalam sebuah situasi dimana 99% pimpinan Gerwis terdiri dari borjuis, ‘sebab mereka tidak begitu saja setuju dengan teori kita dan belajar mengatur perjuangan menuju kemenangan’.


13 Sebagai contoh, lihat gambaran kecenderungan pekerja wanita oleh Konggres I Gerwis pada bulan Februari 1951. (Wanita Sedar, 15 Maret 1951). Dalam Konggres I ini dirumuskan rencana undang-undang perkawinan yang demokratis yang menjamin persamaan hak dan kepentingan bagi kedua jenis sex, melindungi perempuan dan anak dalam beberapa kasus perceraian, menentukan batas usia untuk menikah; 17 untuk perempuan dan 20 untuk laki-laki dan yang paling prinsipil adalah jaminan terhadap poligami.

14 Konggres I Gerwis, bulan Februari 1954, memberikan gambaran detail tentang program di pedesaan (ibid, Maret 1951, hlm 16).

15 Harian Rakjat, 5 Juni 1957

16 Wanita Sedar, Januari 1952, hlm 3

17 Harian Rakjat, 9 Juni 1953.

18 Zaman Baru, 28 Februari 1953, hlm 29

19 Harian Rakjat, 26 Maret 1954

20 Gerwani, op.cit, hlm 11

21 Pimpinan Gerwani mengklaim pada bulan Desember 1957, bahwa target tersebut adalah tidak realistic, sebab lebih setahun dari konggres II, seluruh organisasi sibuk mengubah struktur organisasi dengan konstitusi yang baru: sebab Gerwani tidak mempunyai kader yang mencukupi untuk memenuhi target tersebut di masyarakat dimana wanita tidak bisa lepas dari adat untuk ikut serta dalam organisasi dan juga karena dalam memutuskan target utama tidak ada perhatian yang diberikan oleh ‘daerah-daerah sulit’, seperti pegunungan, dan daerah yang terisolasi, terutama di luar pulau Jawa. Lihat Gerwani, Lebih Giat Meluaskan Gerakan Untuk Terlaksananya Piagam Hak-hak Wanita Indonesia, Jakarta 1959, hlm 69.

22 Harian Rakjat, 13 Juni 1955 dan 21 Januari 1956

23 Gerwani, Meluaskan Aksi-aksi untuk Memperkuat Tuntutan Hak-hak Wanita, anak-anak dan Perdamaian Jakarta, 1956, hlm 26-27

24 Gerwani, Lebih Giat, hlm 68

25 Review of Indonesia, Januari 1958, hlm 27-28

26 misalnya saja sokongan Gerwani atas pemerintahan Ali Sastroamidjoydjo, oposisi terhadap pemerintahan Burhanudin Harahap. Sokongan terhadap Soekarno pada konsep sebuah partai pemerintahan bersama dan sokongan pada presiden dalam upaya membentuk formatur kabinet pada bulan April 1957.

27 Gerwani, Lebih Giat, hlm 73

28 ibid, hlm 74-76

29 Wawancara dengan Umi Sardjono

30 Gerwani, Lebih Giat, hlm 51

31 Secara umum perempuan Indonesia sangat tidak terjamin dalam perkawinan, sebab suaminya dapat dengan mudah membatalkan perkawinan. Menurut data statistik dari Departemen Agama, dari tahun 1954 sampai 1958, perceraian dalam komunitas muslim sekitar 50-52% dari jumlah keseluruhan dibandingkan dengan angka perkawinan baru dan rujuknya pasangan. (Statistical Pocket Book of Indonesia, 1960. Biro Pusat Statistik, Jakarta, hlm 18). Jaminan yang diminta adalah perkawinan yang lebih demokratis dan bantuan dana pada sang istri, untuk melindunginya dari perceraian.

32 Gerwani, Lebih Giat, hlm 68-71. Sumber memperlihatkan adanya kesalahan jumlah total sekitar 10.000

33 ibid, hlm 70

34 Program diperlihatkan secara utuh dalam ibid hlm 125-127

35 Informasi didapat dari hasil wawancara dengan Umi Sardjono dan dengan pimpinan Gerwani di Jawa Timur dan Yogyakarta

36 Dalam bulan Januari 1963 terdapat 905 TK dan 6 SD, Harian Rakjat, Januari 1963

37 Konggres IV Gerwani pada tahun 1961 menyatakan bahwa pada saat itu sudah terdapat 46.785 siswa dan 1.016 orang guru dalam kursus pemberantasan buta huruf yang diselenggarakan Gerwani, Harian Rakjat 14 Desember 1961.

38 Kartini adalah Pahlawan Wanita yang mencoba memberikan pendidikan pada perempuan

39 Harian Rakjat 14 Desember 1961 dan 11 Januari 1963

40 Untuk pidato, dokumen dan keputusan dari seminar ini lihat, Gerwani, Seminar Nasional Wanita Tani, Jakarta 1962

41 Harian Rakjat 26 Oktober 1961

42 Sebuah survei pada perusahaan menengah dan besar di tahun 1955 ditemukan bahwa 35% dari 450.000 buruh adalah perempuan, (report to the Government of Indonesia on social security. International Laboir Office. Genewa 1958, hlm 17-18). Dari 1.452.000 buruh yang ada di tahun 1956, 25.000 diantaranya adalah buruh perempuan, (Njono, ‘Women Workers of Indonesia’. World Trade Union Movement, Maret 1956, hlm 9). Menurut laporan PKI dalam bulan Mei 1958, perempuan menyumbangkan 45% tenaganya, 65% di pabrik tekstil, 60% di industri cahaya, 65% di pabrik rokok dan masih banyak lagi yang bekerja pada industri dan pelayanan milik pemerintah. (Sundari,’Memperbesar Aktivitet Gerakan Wanita Untuk Memenangkan Partai Dalam Pemilihan Umum Parlemen kedua, Bintang Merah Juni 1958, hlm 263)

43 Bendera Buruh (BB) 17 Maret 1956, hlm 3

44 SOBSI, Dokumen-dokumen Konferensi Nasional SOBSI 1957, Jakarta 1958

45 SOBSI, Plan Organisasi 1958 Jakarta 1957, hlm 5-6

46 BB 15 Oktober 1957 hlm 6, 30 Januari 1958 hlm 1-3

47 Moh. Munir, Pedoman Penjelesaian Plan 1958, Jakarta. 1959 hlm 15-16

48 ibid hlm 17

49 Sarbupri menyatakan bahwa di organisasinya terdapat 681 orang aktivis perempuan diantara 350.000-400.000 anggota. (BB 25 Agustus 1959, hlm 3). Dalam bulan Mei 1960 menurut seorang pimpinan SOBSI di Jawa Timur 5% dari kader adalah perempuan, tapi merupakan 30% anggota di tingkat propinsi

50 Lihat SOBSI, Peranan Buruh Wanita Dalam Pembangunan, Jakarta 1961

51 Kartinah,’Memperluas Keanggotaan Di Kalangan Wanita Tani’. Harian Rakjat, 15 Juni 1955.

52 Tulisan ini merupakan Bab XVII, ‘Women’. Dalam Donald Hindley, The Communist Party of Indonesia 1951-1963, University of California Press, Barceley dan Los Angeles, 1966, hlm 200-211.

GERMINAL dan GERWANI

GERMINAL dan GERWANI

Jurnal Perempuan,

(Adakah hubungan antara karya Emile Zola dengan Tragedi 1965 ?)


Germinal pertama kali ditulis oleh Emile Zola tahun 1884 [
1] . Baru tahun 2002 roman tersebut diterbitkan di Yogyakarta melalui penerjemahan langsung dari bahasa Perancis [2] . Sebelumnya tahun 1960-an memang sudah beredar saduran dari bahasa dari bahasa Inggris [3] .

Roman ini menggambarkan protes terhadap kondisi kerja yang sangat tidak manusiawi yang terjadi di pabrik dan pertambangan Eropa abad ke-19. Kisahnya terjadi di sebuah pertambangan batubara. Digambarkan pertentangan antar kelas buruh dengan majikan (di dalam kelompok ini selain pemilik tambang juga para mandor serta rentenir seperti tokoh Maigrat). Kemiskinan yang dialami dan penindasan dari pihak borjuis menyebabkan pekerja tambang itu melawan.

Adegan paling keras termuat pada bagian V bab 6 yang menceritakan tentang Maigrat yang terjatuh dari rumahnya dan sudah tak bernyawa. Tetapi para perempuan tambang itu melampiaskannya kemarahannya dengan sadis. Seorang di antaranya menyumpalkan roti ke mulut mayat yang tidak bernyawa itu. Tiba-tiba salah seorang dari perempuan itu, membuka pakaian Maigrat dan menaruh tangannya di antara kedua paha lelaki itu. Ia berusaha menarik sekuatnya dan akhirnya mendapatkan potongan daging yang berbulu dan penuh darah ( velue et sanglante ). “Aku dapat, aku mendapatkannya”, katanya dengan bangga sambil memperlihatkannya kepada orang ramai.” Perempuan lain menukas, “ia tak dapat lagi mencabuli anak-anak gadis kita”.

Bagian di atas diterjemahkan secara tidak tepat seperti terlihat di bawah ini:

Déjà, la Mouquette le déculottait, tirait le pantalon, tandis que la Levaque soulevait les jambes. Et la Brûlé, de ses mains sèches de veille, écarta les cuisses nues, empoigna cette virilité morte. Elle tenait tout, arrachant, dans un effort qui tendait sa maigre échine et faisait craquer ses grands bras. Les peaux molles résistaient, elle dut s'y reprendre, elle finit par emporter le lambeau, un paquet de chair velue et sanglante, qu'elle agita, avec un rire de triomphe:

-- Je l'ai ! je l'ai ! Des voix aiguës saluèrent d'imprécations l'abominable trophée. --Ah ! bougre, tu n'empliras plus nos filles !
(hal 362 )

Tanpa terduga, la Mouquette menanggalkan pakaian yang melekat di jasad Maigrat; ia menarik celananya sedangkan la Levaque memegangi bagian pahanya. Dan la Brule dengan tangannya yang sudah keriput meregangkan kedua paha telanjang itu dengan cengkraman yang sangat menusuk. Secara tiba-tiba ia mematahkan kedua tangan itu dengan sekuat tenaga. Kulit yang tercabik terlihat pucat dan berbulu dan dilumuri darah. Ia mengakhiri semuanya dengan membawa cabikan-cabikan dan potongan tangan Maigrat yang ia tunjukkan dengan bangga.

Aku dapat ! Aku dapat !

Suara sorak sorai kemenangan menggema. “Sekarang ia tak bisa apa-apa!”
(hal 335-336)

Penerjemahan tersebut mengandung berbagai kekeliruan, di antaranya, yang dipatahkan oleh perempuan itu bukanlah kedua tangan Maigrat.

Pengebirian

Tahun 1994 muncul film Germinal yang dibuat berdasarkan roman ini dengan sutradara Claude Berri. Dalam film ini tergambar kontras yang tajam, tidak ada daerah abu-abu. Yang ada cuma, baik atau buruk, kaya atau miskin, siang atau malam, pekerja atau majikan, kapitalisme atau serikat buruh. Yang menarik dari resensi yang ditulis oleh Steve Rhodes dalam all-reviews.com bahwa di dalam film ini ditemui adegan horor yang tidak diperlukan termasuk salah satunya pengebirian ( castration ) yang menurutnya harus diedit. Kenapa harus dibuang adegan itu ?

Justeru adegan itu yang mengilhami perusak sejarah di Indonesia untuk melukiskan citra buruk sekelompok perempuan militan. Yang jadi korban itu adalah perempuan dari kelompok kiri yang telah dihujat selama 30 tahun ini sebagai "tidak bermoral". "Tanggal 30 September 1965 malam, mereka menari-nari tanpa busana di daerah Lubang Buaya, kemudian menyiksa para Jenderal, menyayat kemaluan para perwira itu dan memasukkan ke dalam mulut mereka" [4] . Itulah lukisan yang diberikan dalam buku-buku sejarah di Indonesia dan juga ada di dinding-dinding yang dingin di berbagai monumen historis.

Setelah Orba Baru berakhir, sejarah kembali diluruskan [5] . Ternyata bahwa foto tentang wanita tanpa busana yang dijadikan bukti adalah hasil pemaksaan terhadap perempuan yang ikut latihan sebagai sukarelawati Dwikora (ganyang Malaysia) di Lubang Buaya. Mereka ditangkap, dipukuli, diinterogasi lalu dipaksa membuka pakaian dan menari-nari telanjang di depan tentara, sementara yang lain mengambil foto. Lalu foto-foto itu disiarkan. Bukan hanya itu. Pelacur Emmy yang berasal dari Senen ditangkap dan disuruh mengaku sebagai Ketua Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) Cabang Jakarta yang ikut dalam penyiksaan kelamin di Lubang Buaya. Ternyata seperti ditulis Ben Anderson dalam majalah Indonesia terbitan Cornell, berdasarkan visum et repertum dokter tidak ada perusakan kemaluan itu. [6] Bahkan sebetulnya jauh lebih awal, Presiden Sukarno dalam pidatonya menyambut Hari Ibu di Istana Negara, Jakarta, 22 Desember 1965 mengatakan bahwa tidak benar 100 silet dibagi-bagikan di Lubang Buaya untuk menyilet kemaluan para Jenderal [7] . Sayang sekali pidato Sukarno yang waktu itu masih menjadi Presiden RI yang sah tidak bisa dikutip dan disiarkan oleh media massa.

Pers militer ( Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha ) ketika itu --sebagaimana diungkapkan oleh Stanley dalam seminar MSI (Masyarakat Sejarawan Indonesia) di Serpong, September 1999, berperan penting dalam menyebarkan informasi yang menyesatkan itu.

Wanita Indonesia yang ada dalam buku sejarah dan dinding monumen historis tampaknya hanya fiksi belaka, khayalan dari pihak keamanan yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Gambaran tentang kebejatan moral wanita tersebut membangkitkan kemarahan rakyat yang akhirnya menjadi salah satu pendorong mereka melakukan pembantaian, pembunuhan massal yang terbesar dalam sejarah Indonesia yang memakan korban paling sedikit setengah juta jiwa.

Saya mendapat informasi dari seorang pengurus Gerwani bahwa tahun 1960-an memang sudah beredar buku Germinal yang cukup populer. Ia mengatakan bahwa ide penyiletan kemaluan para Jenderal itu ditengarai berasal dari buku karya Emile Zola ini. Pernyataan itu tentu perlu diteliti lebih lanjut. Bila itu benar, dari siapa ide tersebut. Dari seorang seniman kiri Indonesia yang mengungsi ke negeri Belanda semasa Orde Baru saya memperoleh nama sejarawan NN dan budayawan Manikebu WS. Sementara dari sumber lain, mungkin pula ide itu dari seorang perwira yaitu Brigjen S. Sekali lagi, semuanya itu perlu penelitian yang lebih mendalam (dapat ditambahkan bahwa kini ketiga orang tersebut sudah meninggal).

Jika benar bahwa kisah yang direkayasa dan dimuat oleh pers militer itu berasal dari sebuah buku, maka kita dapat mengatakan betapa besar dan dahsyat pengaruh sebuah karya sastra. Sebuah roman yang ditulis oleh orang asing nun jauh di sana telah menjadi salah satu pemicu yang mendorong ke arah hancurnya Gerwani dan ditumpas habisnya pengikut PKI serta tewasnya ½ juta penduduk.

(Asvi Warman Adam, peneliti LIPI)

[1] Edisi yang ada pada saya adalah terbitan tahun 1968 dengan kata pengantar dari Henri Guillemin, Paris: Garnier-Flammarion.

[2] Emile Zola, Germinal (diterjemahkan dari bahasa Perancis oleh Christina Dwiana Astuti dkk), Yogyakarta, Jendela, 2002.

[3] Seingat saya judul buku saduran tersebut adalah Tambang .

[4] Soegiarso Soerojo, Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai: G30S-PKI dan Peran Bung Karno, Jakarta: Intermasa, 1988, hal 247.

Adegan pemotongan kemaluan ini sebetulnya juga dikenal di Nusantara seperti cerita di Bali yang dikutip oleh Henk Schulte Nordholt, Kriminilitas, Modernitas dan Identitas dalam Sejarah Indonesia (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002, hal 37) sebagai berikut:

Pangeran Panji, putra sulung Raja Agung dari Mengwi tiba-tiba menghadapi pemberontakan bangsawan-bangsawan yang berkhianat, ketika ayahnya sedang berkampanye di Jawa Timur (karena penguasa-penguasa yang kuat harus senantiasa bergerak). Menurut laporan VOC dan Babad Bali dan informasi dari tempat keramat di kuil-kuil, Panji meninggal pada tahun 1713 dalam pertempuran sengit bersama 200-300 pengikutnya. Tradisi local mengisahkan bahwa sebagai penyelesaiannya, musuh yang menang itu memotong alat kelamin Panji dan kemudian membawanya berkeliling antara dua buah batu.

Setelah itu baru kekuasaan Panji sirna”.

[5] Lihat Saskia Eleonora Wieringa, Penghancuran Gerakan Perempuan di Indonesia , Jakarta: Garba Budaya dan Kalyanamitra, 1999 dan Stanley “Penggambaran Gerwani sebagai Kumpulan Pembunuh dan Setan” dalam jurnal Sejarah no 9, 2002, Jakarta: Masyarakat Sejarawan Indonesia.

[6] Ben Anderson, “How Did the General Die” dalam Indonesia , no 43, April 1987. Hasil otopsi dapat diliihat pada lampiran buku M.R.Siregar, Tragedi Manusia dan Kemanusiaan: Kasus Indonesia,Sebuah Holokaus Yang Diterima Sesudah Perang Dunia Kedua, Amsterdam: Penerbit Tapol, 1995 (cetakan kedua).

[7] Naskah itu terdapat dalam Budi Setiyono dan Bonnie Triyana (eds), “Akhir Revolusi: Kumpulan Pidato Soekarno 1965-1967 ”, Semarang, Mesiass, 2003.


Menakar Harga Perempuan

Menakar Harga Perempuan

Konon orang-orang Gunungkidul melihat pulung gantung beberapa hari sebelum bencana gempa berkekuatan 5,9 skala Richter mengguncang Yogyakarta. Sebentuk sasmita alam dalam wujud bola cahaya sebesar batok kepala berwarna biru kemerahan melayang-layang di angkasa. Sejak lama orang-orang Gunungkidul percaya pulung gantung sebagai pertanda musibah maha-dahsyat bakal tiba. Percaya atau tidak, banyak yang mati gantung diri setelah menyaksikan firasat gaib itu. Sejumlah penelitian perihal kecenderungan bunuh diri di Gunungkidul kerap dihubungkaitkan dengan mitos pulung gantung. Mereka memilih mati lebih dulu, sebelum petaka itu datang, toh nanti juga bakal mati.

Begitulah jalan aman yang ditempuh ayah Tini seperti dikisahkan novel Harga Seorang Wanita (2006) yang saya baca beberapa bulan lalu. Suatu malam, ayah Tini melihat pulung gantung meluncur dari langit dan jatuh di atap rumahnya. Esok pagi orang-orang Desa Wiloso menemukan mayat lelaki itu menggantung di dahan pohon jati, tak jauh dari rumahnya. Tak lama berselang, bala yang mereka takutkan sunggguh-sungguh tiba: Desa Wiloso terancam kelaparan. Panen gagal, wabah busung lapar berjangkit, kemarau berkepanjangan, sawah ladang retak-rengkah, sapi dan kambing kurus kering karena rumput sukar didapat. Orang-orang terpaksa makan tiwul. Tapi, bagi Simbok, itu bukan salah pulung gantung, bukan pula salah alam Gunungkidul yang tak ramah, melainkan sudah pepesthen, kepastian yang tak bisa dielakkan. Miskin, lapar, makan tiwul, dan bunuh diri adalah takdir. Menjanda setelah kematian suami juga takdir.

Di saat para pengarang kita sibuk membungkus cerita dengan aneka kemasan yang mengkilat, kinclong, sedap dipandang mata (tapi abai isi), pengarang buku itu justru mencibirkan segala macam permainan bentuk yang mengasyikkan itu. Ia justru menukik di kedalaman sumur kemelaratan di dusun-dusun Gunungkidul. Tengoklah peruntungan Simbok! Tersebab miskin, suaminya nekat gantung diri (meski dengan dalih pulung gantung). Karena miskin, Simbok jadi gundik pamong desa (Wirono), jadi babu dan pemuas berahi Bendoro. Wajah ayunya jadi bopeng, remuk tak berbentuk. Disiram air panas oleh Raden Sunartijah (istri Bendoro) saat tertangkap basah sedang mengeroki Bendoro.

Namun, pulung gantung tak pernah enyah dari hidup Simbok. Lagi-lagi bola cahaya biru kemerahan itu meluncur dari langit, jatuh di atap usang rumah gedeknya. Kali ini firasat perihal bala yang bakal menimpa Tini, anak perempuan satu-satunya. Simbok gelisah sejak Tini mohon izin untuk bekerja di Yogya. Dalam terawang batin Simbok, pesakitan Tini tinggal menunggu hari. Cepat atau lambat kembang desa Wiloso itu bakal ditimpa nestapa sebagaimana disasmitakan pulung gantung. Pelan-pelan terkuak juga rasa penasaran Simbok perihal Tini yang tiba-tiba ingin meninggalkan Gunungkidul. Benar! Ternyata niat merantau bukan kemauan Tini. Perempuan beranak satu itu tergadai pada Parman, juragan panti pijat di kawasan Gedongkuning. Ini ulah Jono, suami Tini. Jono harus menebus sepetak ladang yang tergadai. Bila tidak lekas ditebus, ladang akan berpindah tangan. Parman tak keberatan meminjamkan uang 10 juta rupiah, dengan syarat Tini harus bekerja di Griya Pijat Nikmat selama 5 tahun. Apa boleh buat, bagi Tini, ketergadaian tubuh dan dirinya itu mungkin sudah suratan, sebagaimana takdir Jono yang harus rela istrinya jadi sundal.

Sejak itu Tini bukan gadis desa yang lugu dan pemalu lagi. Ia berubah jadi perempuan pemberani. Tak gamang lagi bila berhadapan dengan laki-laki. Tini makin telaten memijat, makin piawai memuaskan hasrat menggebubung para lelaki hidung belang. Pelajaran pertama Tini di panti pijat itu adalah merelakan tubuhnya diperkosa Parman. Perempuan paling ayu di Desa Wiloso itu sama sekali tidak memberikan perlawanan saat tangan kasar Parman menerkam pinggang langsingnya.Untuk apa? Lambat laun tetap saja akan diperkosa. Jadi, dibiarkannya Parman melunaskan dendam masa lalu. Sebelum dipersunting Jono, Parman pernah datang ke Wiloso. Ia hendak memperistri Tini, tapi perempuan itu dalam genggaman Jono.

Berapakah takaran "harga" perempuan yang ditawarkan novel itu? Menimbang kebejatan Wirono, Bendoro, Jono, Parman, atau Andi yang meski berkenan menyelamatkan Tini (tapi menolak komitmen pernikahan), "jangan-jangan" tidak ada takaran harga bagi perempuan. Harga Simbok dan Tini hanya tergantung bagaimana para lelaki memperlakukannya. Seamsal barang rongsokan, tergantung bagaimana pengguna mengukur manfaatnya. Tak ada takaran harga pasti. Agaknya, di sinilah pentingnya realitas keterpurukan Simbok, Tini, dan Murti (anak perempuan Tini dari perkawinannya dengan Jono) yang digambarkan pengarang dengan cara bertutur bersahaja. Nestapa Tini seperti mendaur ulang luka lama Simbok. Bedanya, Tini bukan perempuan yang nrimo. Baginya, ketertindasan itu bukan karena pulung gantung (Tini bahkan tak percaya mitos konyol itu), bukan pula karena suratan takdir, melainkan karena ulah laki-laki. Maka, ia harus melawan, meski akhirnya tetap kalah (dikalahkan?). Puncak kemurkaan Tini terjadi pada sebuah malam jahanam saat ia menikamkan belati ke perut Jono, persis saat suaminya itu sedang berhimpitan dengan Suti, ronggeng dari Karangnongko. Alih-alih menebus gadaian pada Parman, Jono malah berniat menikah lagi dengan Suti. Digondolnya tabungan Tini selama bekerja hampir 5 tahun sebagai pemijat plus. Alhasil, Jono mati bersimbah darah di tangan istrinya sendiri, Tini meringkuk di penjara. Kalah jadi abu, menang jadi arang. Tak lama kemudian Simbok bunuh diri setelah melihat pulung gantung untuk ke sekian kalinya.

Nama pengarang buku itu sesungguhnya Ngarto Februana, tapi yang tertera di sampulnya hanya Februana (seakan-akan nama perempuan). Seolah-olah kata Ngarto terlalu ndeso dan kolot. Padahal realitas yang hendak digambar Ngarto memang ndeso, melarat, dan kampungan, bukan dunia teenlit, metropop yang banyak digandrungi akhir-akhir ini. Barangkali tema-tema seputar kemiskinan, kemelaratan, dan ketertindasan memang sedang "miring" harganya. Jadi, perlu dikemas sedemikian rupa agar laris di pasaran.... (*)

Masalah Gender dan Politik Seksual

Masalah Gender dan Politik Seksual

Diskriminasi terhadap perempuan cukup kasat mata.

Ketika perempuan masuk dunia kerja, sering mendapat pekerjaan yang paling susah di pabrik atau kantor, dengan upah yang paling rendah, sekaligus terus dibebani dengan kebanyakan tugas rumah tangga seperti memasak, mencuci dan mengasuh anak-anak.
Perempuan menderita pelecehan seksual dan pemerkosaan, sekaligus dalam media massa dari pornografi sampai ke iklan biasa mereka digambarkan sebagai makhluk yang cantik atau sensual saja, sepertinya tidak mempunyai ciri yang lain. Namun ironisnya, jika perempuan berhubungan seks terlalu bebas, pasti dicap "tanpa susila". Kalau terjadi kecelakaan, susah mencari pengguguran yang masih dilarang di beberapa negeri, termasuk Indonesia.
Semua perempuan mengalami penindasan ini, dari yang berpangkat tinggi seperti Putri Diana sampai yang paling rendah seperti pengemis di pinggir jalan.
Namun penindasan tersebut dampaknya tidaklah sama kepada setiap perempuan. Meskipun di kalangan bisnis para eksekutif wanita masih merupakan minoritas, buat perempuan kaya toh ada cara untuk mengurangi beban ketertindasan yang tidak tersedia kepada perempuan miskin.
Pekerjaan rumah tangga atau pengasuhan anak-anak jelas tidak merupakan beban berat buat seorang wanita berada yang mempekerjakan beberapa pembantu. Pengguguran tidak menjadi masalah bagi yang mampu membayar ongkos perjalanan keluar negeri. Wanita-wanita miskin yang hidup melarat karena keluarga yang terlalu besar, merekalah yang terluka atau mati di tangan tukang abortus gelap.
Yang mempunyai duit lebih mudah menghindari pelecehan seksual atau pemerkosaan dengan naik taksi pada malam hari, lebih mudah luput dari perkawinin tanpa cinta atau dari keganasan rumah tangga, Perempuan kaya malah mendapat untung dari penindasan kaum miskin. Upah rendah yang dibayar kepada TKW Indonesia yang menjadi pembantu rumah-tangga di Hong Kong, misalnya, membuat si majikan lebih kaya lagi. Makanya penindasan perempuan kelihatannya jauh berbeda jika dilihat dari rumah mewah dibandingkan dengan gubuk melarat.
Sudah dari dulu, adanya pertentangan kelas menjadi masalah untuk gerakan emansipasi perempuan. Di Inggeris misalnya, gerakan feminis terpecah setelah Perang Dunia I. Sayap kiri yang dipimpin oleh Sylvia Pankhurst menjadi sosialis dan memperjuangkan hak-hak buruh perempuan di bilangan miskin kota London. Sedangkan ibunya Emmeline Pankhurst dan kakaknya Christobel Pankhurst memusatkan perhatian mereka kepada kepentingan golongan tengah dan menjadi orang sayap kanan.
Demikian pula, gerakan Women's Liberation tahun 1970-an di barat telah terpecah-pecah. Sebagian menjadi sosialis dan/atau tetap radikal, sedangkan sebagian lainnya mancapai karir yang gemilang dan tidak menghiraukan lagi nasib perempuan rakyat kecil.
Untuk mengerti asal-muasal perkembangan ini, kita perlu menganalasa penindasan perempuan dengan lebih mendalam.
Sistem kapitalis membutuhkan dua macam sumber daya. Dari satu sisi membutuhkan modal, seperti pabrik-pabrik, dan kantor-kantor, bank-bank. Dari sisi lainnya memerlukan tenaga kerja yang sehat dan trampil - dan ini mahal. Aparatus negara menyediakan beberapa pelayanan yang penting seperti sekolah-sekolah, rumah-rumah sakit dsb. Namun sebagian besar dari waktu, upaya dan uang yang diperlukan untuk mereproduksi tenaga kerja baru disediakan oleh keluarga masing-masing.
Inilah kunci pokok untuk mengerti penindasan yang dialami kaum perempuan. Sistem kapitalis mengandalkan pekerjaan tanpa upah yang dilakukan kaum ibu di dalam keluarga, untuk menhasilkan tenaga kerja baru. Segala unsur lain dari penindasan perempuan -- diskriminasi di tempat kerja, stereotip seksual, bahkan pelecehan dan pemerkosaan - berkaitan dengan dan memperkuat peranan rumah tangga ini.
(Di negeri-negeri yang masih sedang berkembang, tentunya ada situasi yang lebih kompleks disebabkan oleh adanya unsur feodal dan pengaruh tradisional lainnya. Padahal penindasan itu muncul sebelum timbulnya sistem kapitalis. Tetapi kapitalisme mengubah segala bentuk penindasan dan memanfaatkannya dengan cara baru.)
Makanya ada dua kesimpulan yang bisa ditarik:
YANG PERTAMA, kalau disimak secara obyektif, penindasan perempuan bukan berasal dari kepentingan kebanyakan laki-laki. Sebaliknya, seorang buruh laki-laki pasti akan beruntung jika upah istrinya dinaikkan. Bila kaum buruh perempuan memperjuangkan gaji yang lebih tinggi, perjuangan tersebut akan memberikan semangat kepada para buruh laki-laki untuk ikut berjuang. Dalam konteks keluarga, kaum laki-laki juga tidak beruntung jika istri-istri mereka harus kerja sampai tenaga mereka terkuras..
Betul, ada banyak laki-laki yang tidak melihat kenyataan ini, dan terus mengajukan prasangka-prasangka yang kolot. Tetapi ada juga banyak perempuan yang menerima prasangka-prasangka tersebut. Ini soal kesadaran, yang bisa berubah dalam konteks perjuangan sosial.
Lain halnya dengan kelas burjuis yang berkuasa (termasuk pemilik modal, pejabat tinggi, jendral-jendral dll, tetapi juga istri-istrinya). Mereka jelas beruntung dari penindasan perempuan rakyat kecil. Selama banyak wanita rakyat jelata bekerja habis-habisan dalam keluarga, para majikan terus mendapatkan tenaga kerja murah, baik dalam bentuk tenaga kerja pabrik/kantor, maupun dalam bentuk pembantu, tukang kebun dll yang begitu menggembirakan hati wanita kaya. Selama diskriminisi terhadap perempuan bertahan di tempat kerja, kaum buruh lebih sulit bersatu untuk memperjuangkan perbaikan nasib, maka kaum majikan beruntung lagi.
YANG KEDUA, strategi yang lazim dipakai oleh golongan feminis di barat, yang berusaha menyatukan semua perempuan melawan kaum laki-laki adalah salah. Meskipun banyak laki-laki dari rakyat kecil masih berprasangka buruk, tetapi keadaan obyektif memuat faktor-faktor yang dapat mendesak mereka untuk membela hak-hak perempuan. Di sisi yang lain, meskipun tidak sedikit perempuan kaya yang bersikap "feminis", tetapi situasi obyektif memuat banyak faktor yang mendorong mereka untuk mentolerir dan bahkan mengiyakan penindasan perempuan rakyat kecil.
Kaum sosialis menganut pembebasan perempuan. Kami bahkan menyokong reform-reform yang hanya meladeni kepentingan perempuan golongan atas dan golongan tengah. Namun pembebasan untuk massa perempuan kelas buruh dan rakyat kecil hanya mungkin bila mereka ikut serta dalam perjuangan kelas yang lebih luas.
Bila sebagai reaksi terhadap penindasan, golongon perempuan tertentu ingin mendirikan kelompok tersendiri di-mana laki-laki tidah boleh berpartisipasi, kami kelompok sosialis jelas membela hak mereka untuk melakukan itu. Tetapi kami menghimbau agar seluruh kelas buruh, dan semua rakyat kecil, bersatu dalam perjuangan melawan segala bentuk penindasan dan eksploitasi.
Kita juga harus melawan penindasan terhadap kaum homoseksual dan lesbian (gay). Kaum gay seringkali dikambing-hitamkan sebagai biang keladi dari masalah-masalah sosial, padahal justru mereka yang menjadi korban.
Penindasan terhadap kaum gay juga berkaitan dengan keperluan sistem kapitalis untuk memproduksi tenaga kerja dan struktur-struktur ideologis lewat keluarga "normal". Orang yang tidak menyesuaikan diri untuk memainkan peranan sebagai laki-laki atau perempuan "normal" dianggap sebagai ancaman terhadap ketertiban sosial. Prasangka ini tercerminkan pula dalam struktur-struktur sosial-budaya, dimana kaum gay dianggap tidak senonoh, dan bisa di-PHK, dipukul, bahkan dibunuh lantaran gaya hidup mereka yang lain.
Sebetulnya kita semua dirugikan oleh situasi ini, karena terpaksa kita harus hidup menurut pola tindak-tanduk yang kelewat sempit (konservatif). Makanya, semestinya kita menyambut dengan antusias munculnya organisasi gay dewasa ini yang memperjuangkan hak-hak mereka.

Menyingkirkan Perempuan ( I )

Menyingkirkan Perempuan ( I )

Pendahuluan

Sejak Frederick Engels menulis “The Origin of the Family, Private Property and the State” pada tahun 1884, telah banyak data yang dikumpulkan oleh para arkeolog dan para antropolog yang membenarkan ide bahwa komunitas manusia pada awalnya tak terbagi-bagi ke dalam kelas-kelas sosial dan, secara jender, egalitarian.

Engels memberikan suatu analisa tentang bagaimana hubungan-hubungan sosial bisa berubah, diputarbalikan, akibat adanya perubahan radikal dalam tenaga produktif manusia―saat muncul kegiatan peternakan. Menurut Engels, pada zaman pra-sejarah, ditemukannya cara-cara beternak hewan oleh komunitas kesukuan bisa meningkatkan kemakmuran mereka, yang sebelumnya tak pernah mereka nikmati. Namun, kemakmuran tersebut justru, malahan, sekadar meningkatkan status sosial kaum lelaki, dan kaum perempuan menjadi korbannya―itu karena kaum lelaki lah yang menjalankan dan menguasai kegiatan peternakan tersebut. Sumbangan kaum lelaki terhadap kesejahteraan komunitas kesukuan tersebut malahan menyebabkan kaum perempuan tersingkir dari produksi sosial, digantikan dengan tugas-tugas perempuan tradisional―menyiapkan makanan dan mengerjakan kerajinan tangan yang, sebenarnya, merupakan jasa-jasa perumahan individual.

Namun demikian, Engels sendiri mengakui bahwa ia, yang hanya memberikan bukti-bukti yang tersedia pada saat itu saja, tak sanggup menjelaskan mengapa kegiatan peternakan, yang sebelumnya dimiliki bersama oleh komunitas kesukuan, berubah menjadi milik kaum lelaki secara individual.

Tulisan ini mencoba memberikan suatu sumbangan untuk menjawab pertanyaan tersebut; tulisan ini berusaha menyelidiki bukti-bukti ilmiah baru yang akan mengisi beberapa kesenjangan (dalam pemahaman kita) tentang bagaimana proses produksi dan hubungan-hubungan produksi berubah sejalan dengan perkembangan dalam kegiatan pertanian (yang menggunakan bajak); dan tulisan ini akan memberikan garis besar tentang: bahwa peningkatan produkstivitas pertanian (yang menggunakan bajak) lebih besar ketimbang peningkatan produkstivitas holtikultura; bahwa kaum lelaki menurun minatnya terhadap kegiatan berburu; fakta yang mengungkapkan bahwa, memang, proses membajak merupakan kerja yang lebih individual dan lebih berat ketimbang holtikultura; bahwa terdapat kesulitan untuk mengkombinasikan kerja individual tersebut dengan kegiatan memelihara bayi; dan, bahwa perdagangan makanan dan produk-produk ternak peliharaan (dengan basis kuantitas yang lebih besar dan beragam) sekarang bisa dilaksanakan dan semakin berkembang; semuanya itu memberikan sumbangan yang menyebabkan kaum perempuan diisolasi dalam pekerjaan-pekerjaan rumah tangga sehingga, kemudian, tak memiliki kekuasaaan terhadap produksi makanan-utama―yang, sebenarnya, merupakan landasan bagi terciptanya status dan kekuasaan yang sama antara kaum lelaki dan kaum perempuan di dalam masayarakat sebelumnya.

Dalam tahap perkembangan sosial yang penting seperti sekarang ini, bukti-bukti paling akhir yang, sebenarnya, ditujukan untuk mengisi beberapa kesenjangan dalam penjelasan Engels dan kaum Marxis lainnya, justru membenarkan penjelasan kaum Marxis: bahwa, dalam masyarakat yang berkelas, terdapat hubungan antara perkembangan pemilikikan pribadi dengan penindasan terhadap kaum perempuan. Karena itu, tulisan ini sangat lah penting bagi mereka yang sedang berjuang untuk memblejeti kesalahkaprahan pemahaman kaum determinis-biologis tentang ketidaksetaraan jender; ketidaksetaraan jender dianggap sebagai “alamiah” dan tak bisa diubah lagi. Yang demikian itu tentu saja merupakan penjelasan ilmiah-palsu, dan merupakan ideologi reaksioner. Cilakanya, penjelasan tersebut, sekarang ini, telah begitu meluas.

I. Biologi sebagai ideologi.

Mengapa kaum perempuan masih dianggap sebagai warga negara kelas dua? Mengapa mereka terpasa harus memilih antara menjadi ibu yang “baik” atau menjadi wanita (pemburu) karir yang “hanya mementingkan diri sendiri”? Mengapa kapasitas untuk melahirkan anak membatasi rentang pilihan yang tersedia bagi kaum perempuan, sementara kapasitas untuk menghasilkan anak tak membatasi kaum lelaki? Mengapa keluarga merupakan isu yang begitu penting dalam politik neo-liberal? Mengapa distribusi ekonomi dan kekuasaan sosial begitu tak setaranya di antara kaum lelaki dengan kaum perempuan?

Selama berabad-abad, telah terjadi debat tentang apa yang mementukan tingkah laku manusia: apakah sesuatu yang memang telah ada secara alamiah, atau memang timbul dari lingkungan sosial dan fisik tempat manusia itu hidup dan berinteraksi? Sekarang ini, beberapa teori mengaku bisa menjelaskan tingkah laku manusia didasarkan pada karakter “alamiahnya”―yang, sebenarnya, maknanya lebih ke landasan biologis. Kaum determinis-biologis berargumen bahwa biologis kita tak sekadar membentuk tingkah laku (keberadaan) manusia, namun juga menentukan ketidaksetaraan sosial dan ekonomi (dalam masyarakat berkelas, tentunya).

Penjelasan (varian paling akhir) sosiobiologi, yakni psikologi evolusioner adalah: bahwa ketidaksetaraan ras, etnik, kelas dan, khususnya, jender, itu dikarenakan penyesuaian genetik individual. Para penganutnya berargumen, misalnya, bahwa gen kita menentukan tingkah laku dan hubungan-hubungan lelaki-perempuan―yang tujuannya sekadar untuk memaksimalkan kesempatan-kesempatan menyukseskan reproduksi generasi mendatang. Itu artinya, bahwa peranan jender, perkawinan, praktek-praktek hukum dan lembaga keluarga merupakan turunan dari upaya untuk mereproduksi genetika.

Teori-teori tersebut seolah-olah memiliki keabsyahan ilmiah padahal, kenyataannya, merupakan pandangan yang parsial dan distorsif―merupakan pembenaran bagi ideologi status quo. Mereka berusaha membenarkan: bahwa sistim-sistim yang tak adil dan menghisap itu tak bisa ditolak, tak terhindarkan, dan tak bisa diubah, karena alamiah dan moralis.

Kaum determinis-biologis bukan lah pihak yang pertama kali berusaha untuk mendesakkan kebenaran moral pandangan: tatanan sosial sekarang ini alamiah, tak bisa diubah lagi. Bukan, mereka bukan yang mengawalinya namun, sayangnya, merupakan yang terakhir―ketenarannya dalam ilmu-ilmu alam semakin meningkat.

Keluarga Inti―Ayah, Ibu dan anak―Dianggap “Alamiah”

Sementara teori-teori ilmiah pada abad ke-19 (yang vulgar) sudah tak laku lagi; dan beberapa ideologi keagamaan, yang mengabsyahkan “absolutisme”, telah kehilangan daya penjelas lagi; namun pemahaman “alamiah”―yang berusaha menjelaskan segala gejala sosial―semakin meluas saja dan memiliki signifikansi budaya dalam meracuni varian-variannya yang baru. Coba saja pikir, bagaimana mungkin keluarga inti (yang terdiri dari ayah, ibu dan anak) diproyeksikan sebagai unit sosial yang alamiah, padahal terdapat berbagai hubungan-hubungan sosial antara berbagai individu dengan anak-anak, sekarang ini.

Itu tercermin dalam cerita-cerita yang kita dongengkan pada anak-anak. Ambil lah contoh dongeng tentang 3 beruang; bapak, ibu dan anak beruang hidup bahagia bersama dalam rumah mungilnya, sampai akhirnya diganggu oleh maling-licik bernama Goldlocks. Keluarga semacam itu begitu “alamiahnya”, sehingga gambarannya harus ditiru dalam kerajaan hewan. Itu lah yang disebut antropomorpisme―peniruan atribut-atribut tingkah laku manusia dalam kehidupan makhluk lain.

Realitasnya, berbeda sama sekali. Beruang betina dan jantan hanya beberapa saat saja berpasangan. Yang betina menyendiri bila hendak melahirkan, dan membesarkan bayinya sendirian. Seandainya pun yang jantan (“sang bapak”) mendatanginya, ia akan memandang sang bayi sebagai makanan lezat, bukan sebagai keturunannya (atau turunan genetikanya). Huh, begitu luasnya turunan penjelasan genetika!

Demikian pula dalam kebudayaan Barat, begitu penuh proyeksi kekeluargaan dalam kehidupan dunia hewannya, yang sebenarnya merupakan proyeksi historis keluarga dan saling-silang kebudayaan tipe-tipe masyarakat―sehingga dijadikan landasan “alamiah” unit masyarakat manusia. Tipe-tipe proyeksi demikian disebut etnosentrisme, atau mengatributkan bentuk organisasi sosial tertentu terhadap masayarakat di segala zaman dan tempat.

Bentuk keluarga semacam itu sudah menjadi lazim: terdiri dari bapak, sebagai kepala keluarga, pencari nafkah; Ibu, sebagai pengasuh, yang tugas utamanya adalah menjaga agar keluarga berada dalam keseimbangan sosial dan emosional; dan anak-anak, yang memiliki hubungan biologis terhadap kedua orang tuanya (dengan pengecualian, anak pungut) dan berada di bawah otoritas dan penjagaan kedua orang tuanya―dengan berbagai cara, tentunya.

Pengaturan tata cara hidup tersebut dikatakan telah ada sejak manusia turun dari pohon dan berubah menjadi makhluk yang baru. “Kealamiahan” pandangan tersebut dipertahankan dari segala sudut posisi: ilmiah, keagamaan, hukum, ekonomi dan sebagainya. Lelaki, sang bapak, begitu dominannya, pelindung dan kepala kelompok keluarga tersebut―patriarki. Perempuan lebih lemah dan, dalam hubungan tersebut, tersubordinasi di bawah kekuasaan dan perlindungan lelaki, sebagaimana juga anak-anak, pun demikian, sampai mereka dewasa dan sudah sanggup membina unit-unit keluarganya sendiri.

Peran kaum perempuan yang tersubordinasi tersebut telah diabsyahkan dalam makna fungsi-fungsinya yang, katanya, memang sudah melekat dari sananya, seperti melahitrkan dan membesarkan anak; subordinasi tersebut nampaknya dilandasi ciri biologis mereka, dan merupakan nasibnya―sekali lagi, huh, itu lah yang disebut sebagai “alamiah”.

***

Menyingkirkan Perempuan (II)

Penjelasan Teori Evolusioner
Kaum Marxis menentang penjelasan tersebut; kaum Marxis percaya bahwa kaum perempuan, dalam sejarahnya, tidak selalu mengalami penindasan. Penindasan terhadap kaum perempuan terbentuk pada tahap (tertentu) perkembangan sosial dan dilembagakan melalui keluarga. Dengan kata lain, penindasan perempuan adalah permasalahan sosial, bukan ditentukan secara biologis, dan hal itu terus berlanjut, berkali-kali mengalami perkembangan.
Tulisan ini akan menguji pembuktian terhadap cara pandang yang (sangat) berbeda dalam melihat formasi sosial, dan bagaimana formasi sosial tersebut menempatkan kaum perempuan pada posisi kelas-kedua serta memberikan kesempatan bagi ketidaksetaraan (yang dilembagakan) dalam skala yang lebih luas─bila masyarakatnya terbagi ke dalam kelas-kelas.
Apa yang dianggap sebagai sebuah “penjelasan yang valid”, sangat berbeda dalam berbagai ilmu pengetahuan di berikut ini. Teori-teori evolusioner cukup diterima dalam ilmu biologi, paleontologi, dan arkeologi, tapi dalam ilmu-ilmu sosial (sosiologi, dan, khususnya, antropologi), penjelasan teori evolusioner telah dihina, ditolak, dilabeli tidak ilmiah, diejek, atau diperlakukan sebagai hal yang tabu, karena─tentu saja─mereka melandasi argumen penolakannya pada beberapa teori reduksionisme biologis.
Usaha untuk menjejaki perkembangan spesies manusia dan upaya untuk menjelaskan berbagai bentuk organisasi sosial telah mereka tolak karena dianggap mekanistik dan tidak ilmiah. Contohnya, banyak orang menuduh bahwa penjelasan teori evolusioner pasti “unilineal” (yakni, bahwa masyarakat akan berkembang menurut arah tertentu, yang sudah bisa dipastikan). Yang lain berpendapat, bahwa kita hanya bisa menangkap sekadar kilasan-kilasan perbedaan bentuk-bentuk masyarakat dalam berbagai kurun (sebagaimana dijelaskan oleh teori-teori strukturalis/fungsionalis), tapi kita tak bisa, secara dinamis, memahami bagaimana masyarakat tersebut berubah, sekalipun di tahap yang berbeda. Jika kita hendak membandingkan dua tahap yang berbeda, menurut mereka, kita seharusnya tak boleh berupaya menarik gambaran jeneralisasi atau kesimpulan sejarah yang panjang/menyeluruh, tapi harus dibatasi pada observasi yang sempit/khusus dan pararel waktunya.
Banyak orang yang meneliti/menguji perubahan sosial, misalnya saja para teoritikus diffusionis, mengkajinya dengan menjejerkan peta-peta yang menunjukkan, misalnya, bahwa hubungan antara masyarakat A dengan masyarakat B bisa menjelaskan mengapa masyarakat tersebut memiki persamaan praktek-praktek sosial. Memang, hubungan semacam itu bisa menjadi sebabnya, tapi teori-teroi tersebut bersikeras bahwa itu lah satu-satunya cara untuk menjelaskan kesamaan sosial, padahal hubungan tersebut hanyalah sekadar salah satu cara untuk menjelaskan penyebab perubahan sosial.
Namun, tak ada penjelasan yang begitu salah kaprah selain penjelasan teori evolusioner saat harus menjelaskan masalah perbedaaan jender dan asal muasal penindasan terhadap kaum perempuan. Seorang Antropolog Marxis, Evelyn Reed, dalam bukunya Sexism and Science, berpendapat bahwa salah kaprah penjelasan teori evolusioner bukan karena landasan kajian bukti-buktinya tapi karena landasan politiknya─penolakan ilmuwan-ilmuwan sosial atas bukti-bukti yang dikumpulkan dari masyarakat ditata sedemikian rupa, menjadi beragam, sesuai dengan kehendak politiknya. Namun, perbedaan tersebut justru memberikan tantangan yang mengusik ideologi borjuis karena, menurutnya, kapitalisme merupakan puncak pencapaian manusia dan tak akan ada lagi perkembangan tipe atau bentuk masyarakat lebih jauh lagi─posisi “mengakhiri perkembangan sejarah”.

Doktrin Perbedaan Alamiah
Segala hal yang berkaitan dengan (keharusan) biologis merupakan kunci untuk menjelaskan tentang kelanjutan dan kemandegan perkembangan masyarakat, munculnya dominasi serta ketidaksetaraan dalam masyarakat manusia.
Ada dua versi utama dalam “doktrin perbedaan alamiah” tersebut, yang teori-teorinya didasarkan pada penjelasan biologis. Dalam versi yang pertama, masyarakat dianggap sebagai suatu lapisan atas tak bermakna (suatu suprastruktur gejala sekunder yang dibentuk oleh gejala primer) yang dibangun di atas landasan penjelasan biologis. Sedangkan dalam versi yang kedua, masyarakat dianggap sebagai pelengkap atau “embel-embel” bagi penjelasan biologis.
Dalam versi yang pertama, jender ditentukan oleh faktor biologis─makna istilah “jender” menurut pendekatan biologis adalah bahwa perilaku sosial dipahami sesuai dengan perbedaan jenis kelaminnya, walaupun pendekatan tersebut mengakui adanya beberapa wilayah problem yang tak sanggup membedakan antara jenis kelamin dengan jender). Perbedaan teori-teori tersebut merentang mulai dari yang melandaskan teorinya pada faktor hormonal─dapat dilihat pada teori laterisasi (yang berpendapat bahwa perbedaan kemampuan disebabkan oleh perbedaan kualitas di belahan otak)─hingga teori biogramer manusia Tiger dan Robin Fox─yang berpendapat bahwa program yang berlandaskan pada genetika bisa mempengaruhi manusia dalam cara tertentu, dan itu bukan dipengaruhi oleh instink, karena instink bisa direkayasa melalui kebudayaan hingga menjadi landasan utama yang mempengaruhi perilaku manusia. Tiger dan Fox berpendapat bahwa, karena 99% kehidupan manusia digunakan untuk berburu dan mengumpulkan bahan makanan, sedangkan berburu (dianggap) merupakan sumber kehidupan yang paling penting, maka kaum lelaki lebih agresif serta dominan (karena kaum lelaki lah yang hidupnya “terikat untuk berburu”)─landasannya: perbedaan hormonal antara kaum lelaki dan kaum perempuan. Itu lah sebabnya mengapa kaum lelaki tak terhindarkan akan menjadi pemimpin politik dalam masyarakat modern. Perempuan, tentu saja, sekadar akan menjadi penghasil dan perawat anak.
Yang bisa dimasukkan dalam kategori teori tersebut adalah teori sosio-biologi Edward Wilson dan David Barash, yang berlandas pada teori seleksi alam Charles Darwin. Teori tersebut menempatkan teori Darwin pada posisi yang ekstrim─dengan mendesakkan tujuan eksplisit dan arahan moral ke dalam proses evolusi.
Teori sosio-biologi berpendapat bahwa perilaku binatang dan manusia secara genetik diarahkan untuk memaksimalkan pengalihan gen-nya ke generasi penerusnya agar keturunannya bisa tetap hidup. Masing-masing jenis kelamin menggunakan strategi berbeda dalam memaksimalkan kesempatan tersebut. Teori-teori tersebut memberikan landasan bagi teori psikologi evolusioner. Barash, contohnya, mengatakan bahwa kaum lelaki menghasilkan jutaan sperma, sementara kaum perempuan hanya menghasilkan satu indung telur pada satu saat atau sekitar 400 indung telur sepanjang hidupnya. Karenanya, kaum lelaki berkepentingan membuahi sebanyak mungkin perempuan untuk memaksimalkan pengalihan gen-nya ke generasi berikutnya, sementara kaum perempuan, karena mengandung janin dalam tubuhnya, lebih mementingkan kualitas, karenanya berusaha mencari pasangan yang secara genetik paling sesuai.
Makna penjelasan tersebut bertujuan untuk mempertegas perbedaaan peran-peran jender. Kaum lelaki tidak terlalu selektif dalam melakukan hubungan. Ketimbang kaum lelaki, kaum perempuan lebih maklum, lebih siap, pada ketidaksetiaan pasangannya karena baginya hal itu bukan kerugian besar. Lain halnya jika kaum perempuan yang tak setia, kaum lelaki bisa saja mencurahkan enerjinya untuk membesarkan anak dari perempuan lain. Karena kaum perempuan sadar betul bahwa anak itu, secara genetik, adalah miliknya maka ia berkeinginan mencurahkan perhatian untuk merawatnya. Dengan demikian, dalam masyarakat modern, ia lebih berhasrat menjadi ibu rumah tangga.
Menurut pandangan tersebut, kaum perempuan, karena berkecenderungan mencari lelaki terbaik, berusaha menikahi lelaki dengan status sosial yang lebih tinggi. Kaum lelaki harus bersaing untuk memiliki perempuan karena kaum perempuan tak begitu banyak menghasilkan anak. Karenanya, lelaki yang lebih kuat dan lebih agresif akan lebih sukses─itu lah yang memperkuat dominasi kaum lelaki atas kaum perempuan. Dalam masyarakat pemburu dan pengumpul makanan, pemburu terbaik merupakan pemasok makanan terbaik. Perang dan penguasaan wilayah akarnya adalah hasrat, usaha, lelaki untuk memiliki perempuan, dan mencegah lelaki lain memilikinya. Teori tersebut bukan saja meletakan faktor keturunan langsung (berdasarkan genetik), tapi juga meletakan faktor keturunan langsung (berdasarkan sel telur) sebagai landasan perbedaan jender. Teori tersebut mengabaikan kenyataan bahwa, dalam masyarakat berburu, kaum lelaki berburu secara berkelompok, bukan secara individual.
Dalam rangkaian-kedua teori-teori yang dilandaskan pada faktor biologis, masyarakat tak dibatasi oleh faktor biologis tapi merupakan embel-embel bagi faktor biologis: masyarakat, secara budaya, akan memberikan penjelasan rinci tentang perbedaan antar jenis kelamin.
Sosiolog fungsionalis merupakan contoh bagi cara pandang tersebut. George P. Murdock berpendapat bahwa pembagian kerja secara seksual terkait dengan perbedaan biologis: kaum lelaki lebih kuat, kaum perempuan mengandung/merawat anak, dan perbedaan peran sosial tersebut merupakan cerminan yang paling sesuai dengan takdir biologisnya.
Talcot Parson mengedepankan suatu teori yang mengatakan bahwa kaum perempuan lebih “ekspresif” sedangkan kaum lelaki merupakan “instrumen”. Kaum perempuan, dalam keluarga inti, bertanggung jawab terhadap pergaulan anak remajanya dan kematangan/kestabilan kepribadian (lelaki) dewasa. Lelaki adalah pencari nafkah, yang bersaing dalam suatu masyarakat yang berorientasi-pada-prestasi yang bisa menyebabkan stress dan keterasingan; karenanya, mereka mebutuhkan kaum perempuan untuk menjaga keseimbangan.

Femisnisme radikal
Karakter ideologis teori-teori perbedaan alamiah diungkapkan dalam gelombang kedua gerakan pembebasan kaum perempuan, gerakan yang bertujuan untuk merubah posisi ekonomi dan sosial kaum perempuan. Namun, kekuatan dan isian budaya yang dilandaskan pada teori-teori biologis─yang digunakan untuk mengabsyahkan ketidaksetaraan kaum perempuan dan masyarakat berkelas (terutama dalam masyarakat kapitalisme)─menggiring mereka memasuki wilayah teori feminis.
Jadi, kaum feminis radikal menganggap bahwa perbedaan jender sebagai hal yang mendasar. Kelebihan kaum perempuan─menghasilkan dan memelihara anak─dipertentangkan dengan hakikat kaum lelaki─yang jahat, suka menyiksa, suka kekerasan, dan suka berperang. Dalam teori patriarki, ditekankan bahwa dominasi kaum lelaki akarnya adalah hakikat kaum lelaki yang suka kekerasan dan suka melakukan pemaksaan seksualitas. Karena kaum feminis radikal tak sanggup menyediakan satu pun penjelasan sosial tentang seksualitas tersebut, maka teori mereka berhenti pada penegasan bahwa perbedaan esensial tersebut hanya bisa dijelaskan oleh teori-teori yang landasannya biologis.
Beberapa pendahulu teoritikus feminis radikal terang-terangan menegaskan sebab-musabab biologis. Susan Brownmiller menganjurkan teori biologi struktural untuk menjelaskan perbedaan seksual. Shulamith Firestone menyuguhkan teori biologis reproduksi fungsional. Kate Millet mengedepankan teori kekuasaan kaum lelaki tanpa bisa dengan jernih menjelaskan landasan sosialnya.

Beberapa feminis radikal mengaku bahwa mereka menolak determinisme biologis, tapi mereka gagal memberikan penjelasan alternatif tentang penindasan terhadap kaum perempuan. Dalam prakteknya, mereka lebih suka memprioritaskan aktivitas-aktivitas yang mengacu pada seksualitas, teknologi reproduksi, perkosaan dan kekerasan seksual. Saat kaum feminis radikal mengunggulkan teori mereka yang, katanya, dilandaskan pada kepentingan kaum perempuan, yang tak ternoda oleh pikiran-pikiran kaum lelaki (teori-teori dan budaya kaum lelaki), mereka sebenarnya sedang mempertontonkan ketidakpedulian mereka terhadap bahaya-bahaya dari kesimpulan “bahwa perbedaan jender adalah alamiah adanya”, yang, bila tak ada penjelasan lainnya, maka mereka akan kembali berkutat pada teori-teori yang landasannya biologis.

Kesimpulan teori ekofeminis ditarik dari landasan yang sama. Mereka berpendapat bahwa terdapat paralelisasi antara ekploitasi terhadap alam dengan ekploitasi terhadap kaum perempuan yang dilakukan oleh masyarakat yang didominasi kaum lelaki, dan kaum perempuan lebih terikat pada alam saat mereka merawat anak dan bersosialisasi. Karenanya, bila alam “diperkosa” dan diekploatasi kaum lelaki maka hal yang sama pun akan menimpa kaum perempuan.

Kiasan “Ibu pertiwi/bumi”, secara harfiah, dimaknai oleh teori ekofeminis untuk menggambarkan kemampuan kaum perempuan dalam hal melahirkan anak, sama halnya denga bumi, rahim kehidupan. Kedekatan kaum perempuan dengan alam, atau hakikat alamiah kaum perempuan, katanya, memberikan nilai moral yang lebih tinggi bagi kaum perempuan, yang memiliki intuisi dan hubungan mistis dengan alam─karena mengalami “pengalaman” eksploitasi yang sama. Dengan demikian kaum perempuan akan memiliki “suara” yang lebih lantang dalam memelihara bumi, melawan eksploitasi dan ilmu pengetahuan kaum lelaki.

Pentingnya Teori Darwin

Seluruh teori perbedaan alamiah bermuara pada tipe-tipe penjelasan yang mengacu pada ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan sosial abad ke19.

Pada abad ke-19, karakter ideologis penjelasannya berbeda dengan saat ini. Penjelasan tentang perkembangan sosial lebih mengacu pada kerangka agama, ketimbang pada kerangka ilmu pengetahuan. Penjelasan Sang Pencipta lah yang mendominasi: berdasarkan penjelasan sejarah tertulis (4.000 tahun S.M), Tuhan lah yang menciptakan masyarakat manusia. Dengan demikian, masyarakat manusia dimulai pada masa-masa awal masyarakat Mesir, atau lima kitab nabi Musa dijadikan sebagai landasan acuannya.
Eropasentrisme, yang mengunggulkan masyarakat kapitalis Eropa sebagai puncak peradaban, menyebabkan cara pandang yang berkesimpulan bahwa masyarakat apa pun yang berbeda dengannya, apakah itu masyarakat pemburu-pengumpul makanan atau masyarakat feodal, merupakan suatu kemunduran, suatu indikasi kemerosotan menuju status masyarakat binatang. Salah satu varian dari posisi tersebut berpendapat bahwa masyarakat yang mengambil jarak terhadap pusat kebudayaan (Eropa) bisa disimpulkan derajat kemundurannya. Pandangan semacam itu memberikan pengabsyahan ideologis bagi perbudakan rasial dan kolonialisme.

Dengan adanya kemajuan dalam ilmu pengetahuan maka penjelasan lama─penjelasan yang percaya pada keharusan takdir, yang memang cocok dengan dunia aristokrat agraris (sebelum terbentuk masyarakat kapitalisme industrial)─digantikan oleh tipe penjelasan yang lebih sesuai dengan lingkungan industri perkotaan, yang lebih kompetitif. Penjelasan baru tersebut berkisar di sekitar perdebatan tentang tempat manusia dalam alam.

Pengaruh teori Charles Darwin─evolusi spesies melalui seleksi alam dan variasi─begitu besarnya dan sangat kontroversial. Teorinya, secara relatif, sangat sederhana: organisme itu akan berubah-ubah, menjadi beragam, dan variasinya diwariskan (paling tidak sebagian) melalui keturunan. Organisme menghasilkan lebih banyak keturunannya ketimbang yang berhasil hidup dan, biasanya, keturunan yang lebih kuat lah (karena didukung oleh lingkungannya) yang akan berhasil hidup dan menyebar.

Teori Darwin didasarkan pada observasinya atas perkawinan domestik (ternak/tanaman sejenis) dan atas pengalaman perjalanannya ke Kepulauan Galapagos. Ia tak bisa menjelaskan bagaimana hal itu bisa terjadi selain memaparkannya secara material, tanpa mengacu pada intervensi takdir apa pun. Namun demikian, ungkapannya (tentang seleksi alam dan siapa kuat dia menang) bisa dan memang diterjemahkan seperti ini: sepertinya ada suatu entitas yang bisa menentukan siapa yang kuat dan siapa yang terpilih.

Interpretasi tersebut menjadi lebih kuat karena Darwin percaya pada teori populasi seorang pastor Inggris, Thomas Malthus, yang, pada tahun 1798, berpendapat bahwa kemiskinan dan ketimpangan sosial pasti bergerak menurut derajat/tingkat hitungan geometris, padahal produksi/persediaan makanan bergerak menurut derajat/hitungan aritmatika. Menurut Malthus, reformasi sosial untuk mengatasi ketimpangan sosial akan gagal dan ia, secara khusus, menentang tindakan untuk meringankan penderitaan orang-orang miskin, manula, atau orang-orang sakit karena hal tersebut akan memberikan semangat hidup dan akan meningkatkan tingkat kelahiran. Walaupun perkembangan/ perbaikan dalam produksi makanan membuktikan bahwa teori Malthus itu salah, namun idenya tentang “siapa yang kuat” (dalam populasi), pada abad ke-19 dan ke20, telah menjadi landasan bagi program-program untuk memperbaiki keturunan.

Darwin menerjemahkan dan menggambarkan teorinya tentang seleksi alam sejalan dengan gambaran suram yang diberikan oleh Malthus─perjuangan berdarah di antara spesies untuk memperebutkan sumberdaya yang langka. Tapi, sebenarnya, sukses reproduksi melalui seleksi alam bisa berjalan/berhasil melalui berbagai cara, bukan sekadar melalui kompetisi. Kerjasama, hidup berdampingan dan saling bantu juga merupakan kemungkinan yang lain, sebagaimana layaknya perubahan iklim dan migrasi bisa mengubah konteks saat seleksi alam terjadi.

Jadi, pertanyaan tentang tempat manusia dalam alam itu jelas dijawab dalam konteks yang benar-benar ideologis. Karena tak mau mempercayai keharusan takdir─yang dilandasi pemikiran adanya harmoni dalam alam dan masyarakat, sehingga segala sesuatu dan semua orang akan mendapatkan tempatnya yang layak─maka pandangan tentang Tuhan pun berubah─Kemahakuasaan diidentifikasi dengan hukum alam yang bisa mengatur-dirinya sendiri dan, karenanya, ketimpangan/ketidaksamaan dijelaskan menurut hirarki biologis. Jadi, sebenarnya, Ilmu pengetahuan tidak menggantikan Tuhan, tapi Tuhan diidentifikasi berdasarkan hukum alam.

Kiasan tersebut lebih diperluas lagi sehingga masyarakat dipahami sebagai organisme biologi: struktur kelompok-kelompok manusia mencerminkan bentuk-bentuk alam, dan hukum-hukum alam inheren dalam bentuk-bentuk tersebut. Pandangan seperti itu mengabsyahkan dominasi satu kelompok terhadap kelompok lainnya atas dasar perbedaan-perbedaan yang dianggap alamiah, tak terelakan dan, karenanya, moralis. Jadi, Eropasentris─yakni, asumsi-asumsi borjuis tentang kemajuan moral peradaban─ diterjemahkan ke dalam hirarki evolusioner orang-orang yang berharga secara sosial.

Mekanisme yang mendasari evolusi spesies telah diklarifikasi pada abad ke-20 dengan ditemukannya gen, kromosom dan DNA, variasi genetik dalam reproduksi seksual, serta dengan adanya efek kebetulan/kecelakaan dalam mutasi genetik. Tapi, karena genetika, kromosom atau DNA juga memberikan hambatan pada kehidupan, maka ada alasan untuk menempatkan orang pada posisi sosial dan ekonominya dengan menggunakan landasan biologi sebagai senjata sosial. Teori-teori semacam itu tak lain merupakan ideologi yang bersembunyi di balik jubah ilmu pengetahuan.

Pada kenyataannya, individu-individu merupakan produk dari interaksi kompleks antara warisan genetik, lingkungan dan peristiwa-peristiwa kebetulan yang akarnya bukan genetik atau pun lingkungan. Mengabsyahkan perbedaan status, kekayaan dan kekuasaan, dengan membebankan kesalahan pada perbedaan (yang, walaupun mencolok, namun dibuat-buat, cupet) warna kulit atau organ seksual, bisa menutupi ketimpangan sosial yang, sebenarnya, sistimatik.

***

ENGELS DAN EVOLUSI MANUSIA

Meskipun terbatas, teori Darwin telah mendorong persoalan asal-muasal species manusia ke dalam sebuah kerangka ilmiah. Ahli antropologi seperti Lewis Morgan, Edward Tylor, Jacob Bachofen dan James Fraser telah mulai mengembangkan teori-teori evolusi masyarakat, mempelajari awal mula munculnya masyarakat pra sejarah, bukan hanya dari fase peradaban (saat munculnya budaya tulis).
Morgan, contohnya, melihat dengan jelas perbedaan pada tiga jaman besar perkembangan masyarakat, yang disebut jaman kebuasan, barbarisme dan peradaban. Setiap jaman tersebut ditandai dengan kemajuan nyata dalam tingkatan aktivitas ekonomi, yaitu cara manusia memperoleh kebutuhan hidupnya. Walaupun setiap tahap terdiri dari sub-tahap, ditegaskan secara luas, jaman kebuasan didasarkan pada kegiatan berburu dan pengumpulan makanan, jaman barbarisme pada produksi makanan melalui holtikultura dan peternakan, serta jaman peradaban didasarkan pada budaya tulis dan pertanian.
Ada sebuah perbedaan yang tegas antara teori evolusioner dengan Marxisme serta teori lainnya seperti Darwinisme. Darwin menekankan kontinuitas pada perkembangan perbedaan spesies, lebih bercorak pada perubahan kuantitatif dan menitkberatkan sebuah lambatnya perubahan Di sisi lain Frederick Engels menganggap sebagai sebuah perubahan kualitas, sebuah diskontinuitas yang nyata khususnya pada perkembangan manusia sebagai sebuah spesies.
Inilah perbedaan antara pendekatan gradualisme dan pendekatan dialektis. Teori Darwin, meskipun di dalamnya dijelaskan beberapa aspek dari evolusi, tetapi hanya menceritakan sebagian dari kisah sejarah. Hal itu tak cukup untuk menjelaskan perubahan-perubahan cepat yang terjadi pada rekaman bukti fosil, seperti ledakan Cambrian, yang merupakan sesuatu yang dahsyat, cepat, serta dituturkan secara historis, penampakan yang sejaman dengan spesies baru, yang lebih lambat dengan evolusi spesies dari nenek moyang pada umumnya.
Ketika Darwin membuktikan bahwa manusia berkembang dari dunia binatang serta memisahkan nenek moyang yang biasanya dari kera yang paling tinggi, dia menjelaskan secara kritis tentang perubahan (pembesaran otak dan kemahiran berbicara), akan tetapi dia gagal menjelaskan bagaimana tahap dari perubahan ini. Engels, dalam tulisannya yang tak selesai “The Part Played by Labour in the Transition from Ape to Man”, mengerjakan peran ini.

Manusia sebagai Sebuah Hasil dari Kerja
Baik Engels maupun Darwin, keduanya menuliskan bahwa kera yang paling tinggi merupakan pra kondisi biologis yang utama bagi transisi: bertubuh tegak, berpenglihatan tajam, memiliki masa pertumbuhan serta menyusui yang lama, organ suara serta tangan bebas dengan ibu jari yang bisa disilangkan. Namun Engels mengembangkan sebuah teori hubungan interaktif dari perkembangan tersebut berdasar pada kerja dan memperluas penggunaan alat bantu sampai menjadi sebuah proses panjang yang membentuk perubahan fisik dari kera bertubuh tinggi kepada spesies yang lain.
Selain menyetujui pandangan yang telah tersebarluas bahwa perkembangan otak adalah tahap dasar dan yang terpenting dalam evolusi manusia, Engels justru berpendapat bahwa tahap pertama pastilah turun dari pohon, dengan sebuah evolusi menjadi bertubuh tegak. Adopsi sebuah tubuh tegak dan binatang berkaki dua yang bebas menggerakkan tangan dan perkembangan ini menambah kemampuannya dalam membuat dan menggunakan peralatan. Seiring dengan berjalannya waktu, hal ini membawa perubahan lebih lanjut pada struktur tangan, maka tangan bukan hanya sebagai “organ kerja” akan tetapi juga sebagai “produk kerja”.
Sebagaimana alat-alat kelengkapan binatang (cakar, taring, paruh, dll) merupakan bagian penting dari perbaikan fisik spesies serta interaksi binatang dengan alam merupakan bentuk dari respon langsung pada rangsangan lingkungan (ada beberapa hal khusus pembuatan alat sederhana, seperti simpanse menggunakan ranting untuk menangkap anai-anai, tetapi hal ini bersifat sporadis dan tidak terpusat pada makanan binatang), pembuatan dan penggunaan peralatan pada manusia merupakan aktivitas khusus yang mentransformasikan hubungan umat manusia dengan alam. Tanpa praktek kerja dan alat-alat kerja, manusia tidak akan memiliki asal-usul, tidak akan mampu bertahan hidup atau berkembang sebagai suatu spesies khusus. Sebagaimana dikemukakan oleh Engels :
“Penguasaan alam dimulai dengan perkembangan tangan, melalui kerja dan memperluas cakrawala manusia pada setiap kemajuan baru. Manusia secara terus-menerus menemukan suatu yang baru, hal yang tak diketahui sampai sekarang, milik obyek alam. Pada sisi lain, perkembangan kerja diperlukan untuk membantu mempererat hubungan antar anggota masyarakat melalui dukungan yang saling menguntungkan atas pembiakan, aktivitas bersama, serta dengan menjelaskan keuntungan dari kerjasama tersebut bagi tiap individu. Singkatnya, manusia menuju pada satu titik dimana mereka memiliki sesuatu untuk disampaikan pada sesamanya.“ (Engels, 1934, hal.173)
Kemampuan berbicara memberikan kelengkapan simbolik yang penting untuk mulai mengorganisir, memelihara dan menyebarluaskan pengalaman kerja kolektif manusia. Engels menguraikan sebuah hubungan timbal balik yang positif antara perkembangan umum dari kecakapan mental dengan peningkatan secara terus menerus dalam efisiensi serta kualitas kerja manusia. Kemampuan berbicara dan bekerja mendorong pertumbuhan
Sebagai rencana kegiatan di masa mendatang, identifikasi pemilikan obyek dan pembagian kerja di dalam proses kerja hadir secara lambat, hal itu juga terjadi dalam perkembangan sosial serta dalam konteks bekerjasama. Spesies menjadi beradab melalui kerja. Umpan balik tersebut tidaklah serta merta ada namun berkembang secara kumulatif; aktivitas kerja menjadi titik awal bagi kemajuan manusia.
Penjelasan secara dialektis dan materialis ini secara umum menggambarkan tesis Marx dan Engels bahwa produksi dan reproduksi dari kehidupan yang dekat menentukan unsur dari kehidupan sosial, dan termasuk juga produksi secara biologis dan ekonomis: produksi kebutuhan hidup (makanan, pakaian, perumahan, alat-alat untuk produksi) serta produksi manusia itu sendiri. Oleh karena itu, corak dari sebuah masyarakat pada satu titik perkembangan sejarahnya adalah ‘ditentukan melalui dua macam produksi: melalui tahap perkembangan kerja di satu sisi, serta keluarga pada sisi yang lain.” (Engels, 1970, hal.191)
Dari pemahaman ini, Engels menganalisa perkembangan masyarakat serta, pada sebuah tahap yang khusus, tentang penaklukan perempuan.
Perkembangan Sejarah Penaklukan Keluarga dan Perempuan
Dalam The Origin of the Family, Private Property and the State, Engels mengembangkan karya-karya Morgan dan para anthropolog evoluioner abad ke sembilan belas lainnya. Dia menerima gambaran umum yang diberikan Morgan tentang tiga tahap pokok evolusi sosial, tetapi memberikan penjelasan yang lebih jernih tentang perbedaan antara masyarakat primitif dan peradaban dengan menjelaskan bahwa tahapan selanjutnya adalah tahap perkembangan sosial dimana perbedaan kerja dan pertukaran komoditi antara masing-masing individu datang dari masa perkembangan tersebut. Hanya pada tahapan inilah penaklukan terhadap perempuan termanifestasi sepenuhnya.
Sebelum berlanjut pada teori Engels, perlu dicatat terdapat dua corak dari pengumpulan. Ada corak memperoleh nafkah dalam masa pre hominid( masa sebelum menemukan jagung sebagai makanan pokok) – pencarian makanan secara individu—dimana anda memakan apapun yang diperoleh, dan corak hominid atas pencarian nafkah – perundingan kolektif (dengan peralatan sistematis ) dimana makanan diperoleh kembali dan dibagi dalam kelompok sosial.
Sejarah barbarisme mencakup tiga periode. Dalam periode pertama, nenek moyang manusia menghasilkan produk alamiah, terutama buah-buahan, kacang-kacangan, umbi-umbian, dan lain sebagainya dalam iklim tropis atau subtropis, tetapi tidak memiliki bahasa yang maju. Pada tahapan kedua, terdapat penggunaan makanan laut, dan perkembangan api yang dipakai oleh nenek moyang untuk pemanas dari kondisi cuaca. Hal ini membuat perpindahan dan perkembangan dari peralatan baru pada awalnya meluas jangkauan pada produksi pangan kepada berburu dan meramu. Pada periode ketiga, berburu memperoleh kemajuan, diawali dengan menetap pada sebuah tempat, peralatan perkayuan menjadi maju, dan tenunan tangan, tenunan keranjang dan peralatan batu yang telah dipelitur muncul.
Periode sejarah sejarah barbarisme dari pengenalan pada tembikar dan perkembangan peternakan, diikuti dengan kemajuan tanah pertanian, yang mengembangkan produktifitas alam. Pada titik ini, perbedaan berganti antara Dunia lama (Afrika/Eropa/Asia) dan Dunia baru (Amerika) karena perbedaan alamiah dari dukungan benua, termasuk luas tanah untuk pertanian, binatang ternak dan logam untuk dilebur. Periode ini berakhir pada Dunia Lama dengan peleburan logam, perkembangan penemuan mata bajak dari besi oleh para peternak yang mengarahkan pada pertanian berskala luas, perkembangan populasi yang tinggi, konsentrasi masyarakat perkotaan dan perkembangan kerajinan dan perdagangan.
Sejarah peradaban dicirikan dengan spesialisasi kerajinan, pemisahan kota dan desa, produksi barang dagangan dan kemunculan kelas-kelas sosial, pemilikan pribadi, keluarga monogami dengan ayah sebagai kepala keluarga, dan negara.
Ketidaksetaraan jender mulai muncul pada sejarah kedua, dan berkembang maju secara penuh pada jaman peradaban.
Engels mengambil data antropologi dari Morgan dan para antropolog lainnya yang memperlihatkan kesetaraan sosial dari masyarakat primitif dan hubungan seksual yang dicirikan oleh produksi secara kolektif dan kepemilikan secara komunal. Dia juga mengambil rekonstruksi dari Morgan atas sejarah keluarga – hubungan sosial dan seksual dari masyarakat tertentu seperti yang mereka kembangkan dalam secara historis.
Unit dasar dari masyarakat barbar adalah sebuah keturunan garis ibu yang menggabungkan kelompok ibu, saudara laki-laki mereka dan anak-anak dari pihak ibu. Morgan menggunakan terminologi primitif untuk menggambarkan tahapan ini. Dia menegaskan perkembangan hubungan gender dari kebebasan seksual dan organisasi sosial yang berdasarkan pada peniruan kekerabatan melalui garis ibu, apa yang di sebutnya sebagai sebuah bentuk keluarga yang berdasarkan dengan pada siapa bisa melakukan hubungan seksual dan famili manakah yang membentuk satu kelompok sosial yang inti.
Pengucilan yang pertama kali untuk hubungan seksual adalah antara orangtua dan anak, kemudian dengan saudara kandung, kemudian dengan kategori tertentu dari saudara kandung lainnya melalui garis ibu (matrilineal). Hal ini mengarahkan, dalam tahapan akhir dari kebuasan dan tahapan pertama dari barbarisme, untuk memasangkan hubungan yang berdasarkan pada kesepakatan bersama dimana masing-masing pasangan mempunyai kemampuan untuk membubarkan hubungan. Engels mencirikan ‘keluarga berpasangan’ ini sebagai hal yang alami dan tampaknya sebagai tahap akhir dari evlolusi hubungan keluarga melalui seleksi alam.
Pemeliharan binatang dan perkembangan dari pemeliharaan persediaan makanan menambah lebih besar akumulasi kekayaan dan hal ini mengarahkannya pada hubungan sosial yang baru yang merubah hubungan jender. Kepemilikan kekayaan mulai dirubah dari kepemilikan klan (turun-temurun) kepada kepemilikan pribadi dalam keluarga. Bentuk lain dari kepemilikan juga mengakumulasi (peralatan logam, barang-barang mewah) dan kebutuhan akan perkembangan tenaga manusia.
Perempuan, sebagai sumber dari umat manusia, mulai dirubah sebagai milik yang berharga dan manusia lainnya mulai memakainya sebagai budak. Tenaga kerja tambahan diperbolehkan dalam perkembangan selanjutnya dalam perdagangan dan kerajinan seperti menenun, tembikar dan pertanian. Proses ini diikuti dengan sebuah tahap untuk memperkuat kepentingannya dari garis keturunan menurut bapak dan bapak dalam garis hubungan keluarga, sebaik tahap monogami dalam hubungan sosial.
Perkembangan kekayaan memberikan status yang lebih kepada keluarga dan memberikan rangsangan untuk menjatuhkan warisan matrilineal dalam rangka memapankan institusi patriarki. Engels berpendapat bahwa revolusi gender ini menggantikan dalam jaman pra sejarah., sebelum penciptaan tulisan, sehingga menjadi bagaimana dan kapan hal tersebut digantikan, belum diketahui. Tetapi hal itu bisa ditunjukkan secara etnografi.
Engels mengatakan,”kekalahan hak ibu adalah kekalahan historis jenis kelamin perempuan (Engels, 1970, hal 233). Laki-laki mengambil alih kendali atas rumah tangga, perempuan menjadi direndahkan dan dijadikan budak atas nafsu laki-laki serta perangkat untuk melahirkan anak. Sejatinya, kata keluarga berasal dari istilah latin famulus yang berarti pelayan keluarga, dan familia, keseluruhan budak adalah milik dari laki-laki , patriarki, yang mewarisi semua kemakmuran dan mempunyai kekuatan yang nyata melebihi semua anggota dari rumah tangga.
Singkatnya, kemudian, tidak seperti determinisme biologis lebih luas jenisnya, analisis Marx menolak evolusi pandangan dominan laki-laki dan membenarkan asal-usul perempuan dan hominid memegang peranan penting dalam perkembangan manusia.

***